Para pejuang kemerdekaan Indonesia pada masa silam telah mencoba merebut kedaulatan Tanah Air dengan segenap pengorbanan jiwa dan raga. Tidak sedikit yang mendonasikan hartanya dan mencurahkan tenaga serta pikirannya demi membela jutaan rakyat yang ditindas oleh penjajah.
Kalangan intelektual yang menempuh pendidikan formal maupun nonformal berbondong-bondong mencoba memajukan kemandirian berpikir rakyat Indonesia, salah satunya melalui sumbangan tulisan kritis di surat kabar.

Suara Perempuan Berkemajuan: Jejak Pers Perempuan dari Hindia Belanda hingga Indonesia Merdeka
Pada akhir tahun 1800an, media pers di Hindia Belanda kala itu belum ada yang dikelola oleh pribumi. Para pengelola saat itu sebagian besar merupakan orang Belanda dan Tionghoa. Baru pada tahun 1903, Tirto Adhi Soerjo mengajukan permintaan penerbitan kepada Bupati Cianjur R.A.A Prawiradiredja untuk mendirikan surat kabar Soenda Berita.[1]
Gayung bersambut. Seiring kepedulian Tirto terhadap sumbangsih pemikiran perempuan, maka dibuat secara khusus surat kabar bernama Poetri Hindia pada tahun 1908 di Betawi. Surat kabar tersebut sebagai media pers pertama tentang perempuan milik pribumi. Surat kabar tersebut terbit dua kali dalam sebulan dengan menggunakan bahasa Melayu sebagai lingua franca guna memudahkan perempuan pribumi memahami informasi di dalamnya.
Kantor redaksinya berlokasi di Buitenzorg, sedangkan kantor administrasinya di Batavia serta mempunyai kantor perwakilan di Belanda. Menariknya, meski Poetri Hindia menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa utama, tetapi di sana juga disediakan rubrik bahasa Belanda serta menerima kiriman tulisan dalam bahasa Jawa, Sunda, Jerman, Perancis, dan Inggris.
Muatan tulisan di sana beragam, mulai dari tuntutan keadilan hak dengan lelaki, dorongan untuk memuliakan peran ibu yang melahirkan, kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi perempuan, hingga ajakan agar perempuan pribumi turut andil dalam kegiatan di ruang publik dan organisasi[2].
Meski demikian, usia surat kabar tersebut tidak panjang, sebab Tirto selaku pendiri harus berurusan dengan kolonial akibat ketajaman tulisan dan aksi protesnya. Pada tahun 1912, Poetri Hindia resmi ditutup setelah melewati persidangan.[3]
Sementara itu, apabila Poetri Hindia lahir di tanah Jawa, maka muncul di bumi Minangkabau koran yang juga menyuarakan tentang perempuan bernama Soenting Melajoe. Koran tersebut diinisiasi oleh tokoh jurnalis perempuan terkemuka asal Minang, Rohana Koeddoes bersama rekannya Zoebeidah Ratna Djoewita, yang kelak menjadi redaktur awal.
Berbeda dengan Tirto yang mengajukan pendirian surat kabar Poetri Hindia kepada penguasa, Rohana justru menyampaikan keinginannya untuk mendirikan koran Soenting Melajoe kepada tokoh pers Melayu sekaligus pendiri surat kabar Oetoesan Melajoe bernama Datuk Sutan Maharadja. Kemudian, Sutan Maharadja mengutus putrinya bernama Ratna Djoewita untuk mengurus redaksi bersama Rohana.
Pada 12 Juli 1912, koran Soenting Melajoe resmi terbit pertama kali. Lalu koran tersebut terbit sekali sepekan yang tersebar dari wilayah Minangkabau hingga luar Hindia Belanda. Topik yang dimuat dalam tulisan-tulisan di koran tersebut seputar pendidikan, kesehatan, agama, dan budaya. Namun, usia Soenting Melajoe tidak panjang dan harus berhenti terbit pada 28 Januari 1921.[4][5]
Sementara itu, lahir majalah perempuan yang berkemajuan dengan spirit keislaman dan pendidikan milik organ dari persyarikatan Muhammadiyah bernama Suara Aisjijah (kini Suara Aisyiyah).
Majalah Suara Aisyiyah didirikan oleh Siti Juhainah bersama rekan-rekannya Siti Aisyah, Siti Badilah, dan Siti Jilalah pada tahun 1926. Dengan begitu, majalah Suara Aisyiyah merupakan majalah perempuan tertua di Indonesia.
Majalah tersebut terbilang sangat ekspansif karena distribusi penerbitannya menjangkau seluruh wilayah Indonesia dan menyasar pengurus wilayah, daerah, cabang atau ranting Aisyah. Bahkan, ada yang sampai luar negeri, seperti Singapura, Australia, Mesir, dan Amerika.
Muatan tulisan di dalam majalah tersebut antara lain mengenai agama, aktivitas Aisyiyah, kabar pergerakan luar, pendidikan, masak-masak, dan obat-obatan. Uniknya, majalah Suara Aisyiyah merupakan majalah perempuan Islam yang satu-satunya masih eksis sampai sekarang sejak berdiri pada masa pra kemerdekaan Indonesia.[6][7]
Baca Juga: Syekh Muhammad Al-Kalali: Pendiri “Al-Imam,” Majalah Islam Pertama di Asia Tenggara – Tinta Emas

Dari kanan ke kiri (duduk): Ibu Daukhah A. Hamid, Ibu H. Aisyah Hilal, Ibu Badilah Zubair, Ibu Fatmah Wasool, Ibu Badiah Dhalhar, Ibu Wakhidan, Ibu Hidanah Syahid. Foto: dok. M. Djili. (Sumber: Suara Muhammadiyah).
Dewasa ini, pers di Indonesia semakin mengalami perkembangan dan penguatan. Meski setelah kemerdekaan, pers tidak langsung mengalami kebebasan secara berdaulat, tetapi upaya konstitusi telah menguatkan hal tersebut yang diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
Meski begitu, pers yang telah diberikan ruang gerak progresif sebaiknya memanfaatkan hal tersebut sebagai media yang mendidik masyarakat dan menyampaikan informasi faktual yang mengedepankan etika. Selamat Hari Pers Nasional.
Daftar Pustaka
-
[1]
Aura, F. (2023). Analisis Rubrik Islam dan Perempuan dalam Surat Kabar Poetri Hindia (1908-1911). (p. 24-28) -
[7]
Restiana, S. W. A. (2016). Wacana Perempuan Dalam Majalah Suara Aisjijah Dan Dunia Wanita (1952-1956 Wacana Perempuan Dalam Majalah Suara Aisjijah Dan Dunia Wanita (1952-1956).: S1 Thesis. Universitas Negeri Yogyakarta. https://library.fis.uny.ac.id/elibfis/index.php
-
[2]
Septiani, A. (2017). IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PERJUANGAN KAUM PEREMPUAN DALAM SURAT KABAR POETRI HINDIA 1908-1911 Jurnal Candrasangkala Pendidikan Sejarah 3 1 43 10.30870/candrasangkala.v3i1.2887 https://doi.org/10.30870/candrasangkala.v3i1.2887 2026-02-08 Array (p. 49-51) -
[4]
Maimon Herawati, Siti Karlinah, Herlina Agustin, & Nuryah Asri Sjafirah (n.d.). Women writers’ profiles of Soenting Melajoe Newspaper (1912-1921) Jurnal Kajian Komunikasi 10 2 171–184 10.24198/jkk.v10i2.41934 https://jurnal.unpad.ac.id/jkk/article/view/41934 2026-02-08 Array
-
[3]Iswara N Raditya (2023). Gerak Tirto Adhi Soerjo dalam Emansipasi Perempuan Indonesia tirto.id Tirto.id https://tirto.id/gerak-tirto-adhi-soerjo-dalam-emansipasi-perempuan-indonesia-dbqp 2026-02-08 Array
-
[5]Hedi Basri (2023). Soenting Melajoe: Surat Kabar Perempuan Pertama di Hindia Belanda, Digagas Ruhana Kuddus Kompas.tv https://www.kompas.tv/nasional/229786/soenting-melajoe-surat-kabar-perempuan-pertama-di-hindia-belanda-digagas-ruhana-kuddus?page=all 2026-02-08 Array
-
[6]Sely Widiya Ayu Restiana (2020). Tentang - Majalah Suara 'Aisyiyah. Majalah Suara 'Aisyiyah. Diakses pada 8 February 2026. https://suaraaisyiyah.id/tentang
























