aksara surat ulu kanganga

Surat Ulu dan Perkembangannya: Tradisi Tulis dari Wilayah Uluan Sumatera Bagian Selatan

<span class="te-credits-inline">M. Haidar Izzuddin<button type="button" class="te-credits-btn" aria-expanded="false" aria-controls="te-credits-panel-100002" data-te-credits-btn="1">+1</button><div id="te-credits-panel-100002" class="te-credits-panel" hidden role="dialog" aria-label="Daftar kredit artikel"><div class="te-credits-sec"><div class="te-credits-sec-title">Penulis utama</div><ul class="te-credits-list"><li class="te-credits-person"><a class="te-credits-person-link" href="https://tintaemas.net/user/haidarizzuddin/"><img class="te-credits-avatar" src="https://secure.gravatar.com/avatar/0691fc11b531a01627d7c60939b39f14dbce1b25cf13cde97f4c02643ff6a582?s=56&d=mm&r=g" alt="M. Haidar Izzuddin" loading="lazy" decoding="async" /><span class="te-credits-name">M. Haidar Izzuddin</span></a></li></ul></div><div class="te-credits-sec"><div class="te-credits-sec-title">Editor</div><ul class="te-credits-list"><li class="te-credits-person"><a class="te-credits-person-link" href="https://tintaemas.net/user/Amrullah/"><img class="te-credits-avatar" src="https://tintaemas.net/wp-content/uploads/nsl_avatars/0f9eb5b0e90d9897d9ca98a4c9861b81.jpg" alt="Amrullah" loading="lazy" decoding="async" /><span class="te-credits-name">Amrullah</span></a></li></ul></div></div></span>
M. Haidar Izzuddin 12 February 2026
9 menit --:-- 183x
Dukung Kami

Jejak tradisi tulis di Nusantara tidak selalu lahir dari pusat-pusat kekuasaan atau institusi keagamaan. Di wilayah Uluan Sumatera Bagian Selatan, praktik literasi semacam ini justru berkembang dari pedalaman. Tradisi tulis ini berfungsi sebagai pencatat memori, antara manusia dengan alam, adat dan agama, serta ingatan kolektif dan pengalaman personal. Surat Ulu, sebutan untuk tulisan dari Uluan, hadir sebagai salah satu bentuk ekspresi literasi lokal yang tumbuh dari kebutuhan masyarakatnya sendiri.

Tulisan dan aksara tidak hanya berfungsi untuk merekam bunyi bahasa, tetapi juga mencerminkan cara pandang suatu masyarakat dalam memahami dunia di sekitarnya. Melalui bentuk huruf, bahan yang digunakan untuk menulis, serta pilihan bahasa yang dipakai, Surat Ulu memperlihatkan bagaimana masyarakat Uluan menata pengetahuan dan menjalin hubungan sosial.

Tradisi Tulis Surat Ulu

Sejak perjumaan awal dengan para sarjana Barat, sistem tulisan ini justru disebut dengan nama lain. Oleh M.A. Jaspan sistem tulisan ini disebut sebagai aksara Rejang/Ka-Ga-Nga,[1]​ oleh A.L. van Hasselt dan P. Voorhoeve, sistem tulisan ini disebut sebagai aksara Rencong.[2]​ Namun, masyarakat Uluan dan teks pada naskah-naskahnya menyebut jenis tulisan ini sebagai aksara Ulu atau Surat Ulu. Sistem tulisan ini pada dasarnya sangat mirip secara bentuk dengan jenis tulisan yang berkembang di daerah Kerinci dan Lampung yang dikenal sebagai aksara Incung dan aksara Lampung. Akan tetapi, terdapat perbedaan yang cukup signifikan, baik dari jumlah huruf, bunyi, dan konteks sastra yang digunakan dalam naskah dari ketiga jenis tulisan yang berkerabat ini.

Aksara Ulu merupakan aksara Abugida, yaitu sistem penulisan yang konsonannya diikuti vokal dan tanda diakritik tertentu. Aksara ini ditulis dengan bentuk yang meruncing dan miring ke arah kanan.[a]​ Seperti halnya aksara Latin atau alfabet, aksara Ulu juga memiliki urutan huruf, yaitu ka, ga, nga, ta, da, na, pa, ba, ma, ca, ja, nya, sa, ra, la, wa, ya, ha, mba, ngga, nda, nja, a, mpa, ngka, nta, nca, dan gra.[b]

Aksara Ulu dan varian-variannya. (Sumber: writingtradition.blogspot.com)

Aksara Ulu, sejauh yang pernah dicatat oleh banyak peneliti, berkembang mulai dari wilayah Rawas dan Musi di Sumatera Selatan hingga ke wilayah Kaur di selatan Bengkulu. Dua Provinsi di pulau Sumatera ini menjadi tempat berkembang dan digunakannya aksara Ulu. Hal ini didasarkan pada persebaran naskah dan informasi dari teks di dalamnya.

“Satinggi-tingginye rangas, badaan badawun jangan, jike bedaan ke Palembang, jike bedawun ke Bangkulu.”

Artinya:

‘Setinggi-tingginya pohon Rengas, berdahan dan berdaun janganlah, jika berdahan ke Palembang, berdaun ke Bengkulu’

(Naskah Ulu Seremas Malang, 93 E 56 PNRI).

Teks di atas merupakan sebagian kecil contoh teks yang memperlihatkan kehadiran Palembang (Sumatera Selatan) dan Bengkulu yang secara tidak langsung mengindikasikan cakupan wilayah dari tradisi masyarakat Uluan. Aksara Ulu secara masif digunakan pada wilayah ini, bahkan berkembang menjadi varian-varian aksara, mengikuti etnis dan bahasa/dialek yang digunakan masyarakat penggunanya.

Naskah, Teks, dan Literasi Surat Ulu

Hingga pertengahan abad ke-20 Masehi, masyarakat Uluan masih memiliki pengetahuan untuk membaca dan menulis aksara Ulu. Pada tahun 1962, Jaspan mencatat di daerah Rejang terdapat 417 orang yang memiliki literasi mengenai aksara Ulu, meskipun sebagian besar di antaranya merupakan lansia.[1]​ Adapun pada penelitian terbaru dari Sarwit Sarwono, pada tahun 2006 di daerah Bengkulu terdapat 30 orang yang masih memiliki literasi aksara Ulu dari 8 desa di Kabupaten Seluma.[3]

Sebelum abad ke-20 Masehi, masyarakat Uluan memiliki pengetahuan yang luas mengenai aksara Ulu yang terekam dalam naskah-naskahnya, seperti naskah bilah bambu (gelumpai), tambung bambu (surat boloh), hingga kulit kayu (kaghas). Teks-teks dalam naskah Ulu seperti teks doa, mantra, surah pendek Al-Qur’an, teks sastra, hingga surat korespondensi, menunjukkan bahwa aksara Ulu digunakan secara luas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat pada masanya. Naskah Ulu juga memuat ritus sosial dan adat, seperti naskah Surat Boloh “Caro Ngambiak Madu Siyalang” yang berisi mantra saat ritual Nyialang (mengambil madu), naskah Surat Boloh “Arawan Bujang ataw Gadis” yang berisi teks pada ritual Kayiak Beterang (peralihan anak ke usia remaja), hingga naskah Surat Boloh “Caro Paduwan Kulo” yang berisi mengenai tatacara bermusyawarah bujang dan gadis.[3]

Dari beberapa koleksi naskah Ulu di Perpustakaan Universitas Leiden dapat diketahui bahwa, masyarakat Uluan menjalin komunikasi antar wilayah dengan menggunakan surat korespondensi beraksara Ulu. Salah satu contohnya adalah naskah bambu surat boloh dengan kode Or. 12.275 yang merupakan surat dari Pengiran Putu Negare dan Depati Raje Mude dari Muara Sahung (Kaur, Bengkulu) kepada Pengiran Ulu Danau (OKU, Sumatera Selatan). Contoh lainnya adalah naskah bambugelumpai dengan kode Or. 12.280 yang merupakan surat dari Depati Kelubaq kepada Beginde Megeri Depati Cite Madi. Selain itu, Naskah gelumpai koleksi Museum Berlin dengan kode I.C. 9739, menunjukkan bahwa naskah tersebut ditulis oleh sejumlah bujang dan gadis dari Tanjung Putus (Bengkulu Utara) yang berbentuk percakapan. 

“Kalu uwung banyaq tidaq tawu punye surat ini

Bujang pat dalam Talang Tanjung Putus

Satu baname Turan

Satu baname Lumbar

Satu baname Jamarun

Satu baname Tarutan

Samuratnya Panjiyan

Jadi lima bujang punye surat ini

….

Ini layang gadis pat dalam Tanjung Putus

Satu baname Sabalayar

…”

(P. Voorhoeve, 1971: 40-46).[4]

Beberapa contoh di atas menunjukkan bahwa akasara Ulu pada beberapa dekade dan abad yang lalu masih secara aktif digunakan baik oleh para pemimpin Desa/Marga hingga rakyat biasa dan para generasi muda (bujang dan gadis).

Hadirnya Islam dengan membawa aksara Arab di wilayah Nusantara dan Uluan pada khususnya, tidak serta-merta menghapus keberadaan aksara Ulu. Sebaliknya, pengetahuan Islam, aksara Arab, dan aksara Ulu pernah hidup berdampingan. Pengaruh Islam di wilayah Uluan, jika menilik pada naskah-naskah Ulu, dapat ditarik hingga sepertiga pertama abad ke-17 Masehi, yaitu terminus post quem dari naskah Syair Perahu I beraksara Ulu.[5]​ Naskah Syair Perahu I sendiri merupakan naskah Ulu yang mengandung ajaran tasawuf Martabat Tujuh dari pemikiran Syamsuddin as-Sumatrani. Beberapa naskah dari Bengkulu bahkan memperlihatkan bahwa aksara Ulu merupakan “aksara ibu” para penulisnya sebelum mereka belajar aksara Arab. Contohnya adalah naskah NS, MNB 07.98, dan MNB 1740 yang menunjukkan proses pembelajaran abjad Arab oleh para penulisnya. Dalam naskah-naskah tersebut, susunan abjad Arab ditulis mengikuti urutan aksara Ulu, mulai dari ka-ga-nga dan seterusnya bukan a-ba-ta.[6]​ Selain itu, di Perpustakaan Universitas Leiden terdapat dua belas naskah Ulu dwiaksara, Arab Melayu (Jawi) dan Ulu, yang ditulis menggunakan kertas yang bertahun 1860. Naskah-naskah ini merupakan warisan dari J.A.W van Ophuijsen yang disalin oleh seseorang, kemungkin pribumi, yang mahir membaca aksara Ulu dan mengalihaksarakannya ke dalam aksara Arab Melayu (Jawi).

Surat Ulu Saat Ini

            Tradisi tulis Surat Ulu mulai mengalami kemunduran dan ditinggalkan pada pertengahan abad ke-20 Masehi.  Naskah Ulu terakhir yang diketahui memiliki tanggal dan tahun penulisan di Perpustakaan Universitas Leiden adalah naskah Ulu Or. 6662 A2 (III). Naskah ini ditulis menggunakan kertas pada 20 Juli 1920 oleh seorang Kerio (kepala desa) Desa Bailangu (Musi Banyuasin, Sumatera Selatan). Ada pula catatan mengenai seorang pribumi yang mengalihaksarakan naskah Ulu ke dalam aksara latin sekitar tahun 1931. Informasi ini berasal dari surat Mansoer kepada M.G. Emeis (Or. 6774 B) yang bertanggal 1 November 1931 di Lahat (Sumatera Selatan). Dalam surat tersebut, Mansoer, seorang murid M.G. Emeis, menemukan seorang bernama Ikutan yang masih mampu membaca aksara Ulu, meskipun tidak memahami sebagian besar kata di dalam naskah tersebut.

Dari penelitian Sarwit Sarwono, beberapa naskah Ulu di Bengkulu masih ditulis pada tahun 1960-an. Naskah-naskah ini ditulis dengan media kertas. Beberapa di antaranya adalah naskah Ulu yang ditulis oleh Azni dari Muara Timput (Seluma, Bengkulu) dan naskah Ulu yang ditulis oleh Ali Akbar kepada Jaspan di Talang Baru pada 9 Agustus 1961.[3]​ Setelah periode ini, tidak ada lagi naskah Ulu yang diketahui dihasilkan. Bahkan, penggunaan media tradisional seperti bambu (gelumpai dan surat boloh) serta kulit kayu (kaghas) sepenuhnya ditinggalkan oleh para penulisnya.

Saat ini, revitalisasi aksara Ulu semakin gencar dilakukan, baik oleh perseorangan, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pemerintah Kabupaten-Kota dan Provinsi. Di provinsi Sumatera Selatan, beberapa Kabupaten dan Kota telah memasukkan aksara Ulu ke dalam ruang publik melalui papan nama jalan dan kantor pemerintahan. Kabupaten Lahat dan Kota Pagaralam adalah kabupaten dan kota yang cukup gencar memvisualisasikan aksara Ulu di beberapa sudut wilayahnya. Meskipun wacana mengenai kurikulum pembelajaran muatan lokal mengenai aksara Ulu belum terealisasi dengan baik, semangat untuk terus mengembangkan dan merevitaslisasikan aksara Ulu sudah muncul di kalangan pemerintah daerah. Kabupaten Lahat bahkan mewajibkan para pegawai pemerintahan untuk menggunakan pin nama dwi-aksara, Latin dan Ulu.

Papan nama jalan Kota Pagaralam. (Sumber: Google Maps)
Papan nama Kantor Bupati Lahat. (Sumber: beritakuonline.com)
Pin nama pegawai Kabupaten Lahat. (Sumber: aksaraulu.com)

Lain halnya dengan Sumatera Selatan, Provinsi Bengkulu tampaknya sudah lebih matang dalam merencanakan dan merealisasikan kurikulum pembelajara Aksara Ulu, atau yang lebih dikenal dengan Aksara Kaganga Rejang. Muatan lokal Aksara Ulu ini sudah mulai diterapkan di Kabupaten Rejang Lebong sejak tahun 2009.[7]​ Proses pembelajaran Aksara Kaganga Rejang menggunakan silabus muatan lokal dari Dinas Pendidikan Rejang Lebong dengan dengan pengembangan silabus yang dapat dilakukan oleh guru sekolah secara mandiri.[8]

Di tingkat Universitas, penelitian-penelitian mengenai aksara dan naskah Ulu terpusat di Universitas Negeri Bengkulu (UNIB) dan Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang (UIN RF). Sejumlah penelitian, skripsi, hingga tesis dan disertasi turut dihasilkan oleh dua lembaga pendidikan ini, sebut saja buku “Pusat Penulisan dan Para Penulis Manuskrip Ulu di Bengkulu” oleh Sarwono & Rahayu (2014) (UNIB) yang memetakan 4 “skriptorium” naskah Ulu di Bengkulu, buku “Khazanah Manuskrip Ulu Bengkulu” oleh Sarwono (2020) (UNIB) yang menjelaskan mengenai seluk beluk naskah Ulu di Bengkulu, atau Disertasi “Identitas Masyarakat Sumatera Selatan: Kajian Epigrafis atas Unsur-unsur Keislaman pada Prasasti Ulu” oleh Andhifani (2018) (UIN Raden Fatah) yang menjelaskan aspek keislaman dari beberapa prasasti dan naskah beraksara Ulu.[9][10]​​

Komunitas dan perseorangan juga turut berkontribusi dalam pengembangan serta revitalisasi aksara dan naskah Ulu. Komunitas seperti Aksara Ulu Sumsel (@aksara_ulu-sumsel) di Palembang dan Ka Ga Nga Institute (@kaganga_institue) di Bengkulu melakukan kegiatan pengenalan, pembelajaran, dan pengembangan aksara Ulu kepada masyarakat luas dan dapat dilihat melalui unggahan media sosial Instagram mereka. Akun-akun Instagram, secara perseorangan juga secara aktif melakukan penyebarluasan informasi terkait aksara Ulu, seperti @aksaraulu_muaraenim, @surat.ulu, @pasemah.becerite, @sastra.uluan dan beberapa akun lainnya.

Aksara Ulu, meskipun telah berhenti digunakan sebagai media penyebarluasan informasi secara tradisional di wilayah Sumatera Bagian Selatan, tetap menjadi identitas yang tak dapat dipisahkan oleh masyarakat di wilayah ini. Aksara Ulu tidak lagi ditulis di atas kaghas, gelumpai, maupun surat boloh. Kini, Ia bertransformasi secara digital menjadi font dengan kode ISO Rjng 363. Kedepannya, aksara ini diharapkan terus berkembang, seiring dengan berkembangnya penelitian dan kajian mengenai aksara dan naskah Ulu yang terus dilakukan.

Catatan Kaki

  1. [a] Beberapa naskah menunjukkan bahwa aksara Ulu tidak selamanya ditulis dengan miring ke kanan, ada yang dituliskan tegak lurus dan ada yang dituliskan secara melintang. Lihat naskah 93 E 956 dan 93 E 109 koleksi PNRI.
  2. [b] Aksara Ulu varian Besemah dan Serawai terdiri dari 28 huruf, sedangkan varian Lembak dan Rejang hanya memiliki 23 huruf. 5 huruf yang tidak ada pada varian Lembak dan Rejang adalah mpa, nta, nca, ngka, dan gha.

Daftar Pustaka

Buku
  1. [1] 1,2
    Jaspan, M. A. (1964). Folk Literature of South Sumatra: Redjang Ka-Ga-Nga Texts. Canberra: The Australian National University. (p. 5)
  2. [2]
    Hasselt, A. (1881). De Talen en Letterkunde van Midden-Sumatra. Leiden: Brill.
  3. [3] 1,2,3
    Sarwono, S. & Rahayu, N. (2014). Pusat Penulisan dan Para Penulis Manuskrip Ulu di Bengkulu. Bengkulu: UNIB Press. ISBN: 9789799431851. (p. 94, 83-85, 15, 90)
  4. [5]
    Braginsky, V. I. (1988). A preliminary reconstruction of the Rencong version of “Poem of the Boat”. Bulletin de l’Ecolefrançaise d’Extrême-Orient. (p. 267)
  5. [7]
    Undri, U. & Femmy, F. (2014). Kurikulum muatan lokal: di Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu perspektif sejarah. BPNB Padang. (p. 3)
  6. [9]
    Sarwono, S. (2020). Khazanah Manuskrip Ulu Bengkulu. Bengkulu: FKIP Universitas Bengkulu.
Jurnal
  1. [4]
    Hooykaas C. P. Voorhoeve (1971). Südsumatranische Handschriften: Verzeichnis der Orientalischen Handschriften in Deutschland, Bd. xxix.. , 9. (p. 40-46)
Lainnya
  1. [6]
    Izzuddin, M. H. (1971). Islam Dan Literasi Bahasa Arab dalam Naskah-Naskah Ulu: Verzeichnis der Orientalischen Handschriften in Deutschland, Bd. xxix.. International Seminar on Social, Humanities, and Malay Islamic Civilization. Wiesbaden: Franz Steiner Verlag GmbH. (p. 1255)
  2. [8]
    Anggelita, E. (2023). Implementasi Muatan Lokal Aksara Kaganga Rejang pada Siswa Kelas III SDN 72 Rejang Lebong. Skripsi, Institut Agama Islam Negeri Curup. (p. 55-56)
  3. [10]
    Wahyu Rizky Andhifani (2018). Identitas Masyarakat Sumatera Selatan: Kajian Epigrafis atas Unsur-unsur Keislaman pada Prasasti Ulu. Disertasi: UIN Raden Fatah Palembang.
M. Haidar Izzuddin

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Susastra, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, dengan peminatan Filologi yang berfokus pada kajian terhadap naskah-naskah Surat Ulu dari wilayah Sumatera Bagian Selatan.

Mungkin Kamu Menyukai