Seruan Camille Desmoulins di Palais-Royal pada Juli 1789 menjadi titik api Revolusi Prancis, ketika ia mengajak rakyat Paris untuk mengangkat senjata dan mengenakan kokarde sebagai tanda persatuan. Sosoknya kemudian diabadikan dalam potret karya Joseph Boze sekitar tahun 1790 yang kini tersimpan di Musée des Beaux-Arts de Chartres, menggambarkan wajah seorang jurnalis muda dengan tatapan tajam yang berani menantang tirani dan menggerakkan massa menuju penyerbuan Bastille.

Pada sore hari 12 Juli 1789, dua hari sebelum penyerbuan Bastille, Paris dilanda gejolak. Raja Louis XVI memecat Jacques Necker, menteri keuangan yang dianggap berpihak pada rakyat. Keputusan itu dianggap tanda bahwa Raja akan kembali menggunakan cara-cara absolutis dan militer untuk membungkam suara rakyat.
Di tengah suasana tegang, seorang jurnalis muda bernama Camille Desmoulins berdiri di atas meja di Palais-Royal, pusat keramaian politik dan diskusi rakyat Paris. Dengan penuh emosi ia berteriak:
M. Necker est renvoyé ; ce renvoi est le tocsin d’une Saint-Barthélémy des patriotes : ce soir, tous les bataillons suisses et allemands sortiront du Champ-de-Mars pour nous égorger. Il ne nous reste qu’une ressource, c’est de courir aux armes et de prendre des cocardes pour nous reconnaître
Terjemahan:
“M. Necker telah dipecat; pemecatan ini adalah lonceng tanda bahaya bagi sebuah pembantaian Saint-Barthélemy terhadap para patriot: malam ini, seluruh batalion Swiss dan Jerman akan keluar dari Champ-de-Mars untuk menyembelih kita. Hanya satu jalan keluar yang tersisa bagi kita, yaitu bergegas mengambil senjata dan mengenakan kokarde agar kita saling mengenali.”
Camille Desmoulins (Desmoulins, Camille. Grand discours justificatif de Camille Desmoulins aux Jacobins, « Le Vieux Cordelier ». Hal: 66.)
Baca Juga: Natalie Paley: Putri Rusia yang Lolos dari Revolusi Bolshevik dan Menjadi Artis Model – Tinta Emas
Dari Orasi ke Ledakan Revolusi
Pidato spontan Desmoulins di Palais-Royal memicu gelombang besar. Kerumunan rakyat mulai bergerak, toko senjata diserbu, dan Paris berubah menjadi kota yang siap melawan. Dua hari kemudian, pada 14 Juli 1789, amarah rakyat itu mencapai puncaknya dengan penyerbuan Bastille, simbol penindasan monarki.
Pada 14 Juli 1789, rakyat Paris menyerang Hôtel des Invalides untuk merebut persenjataan. Camille Desmoulins termasuk di antara mereka, melengkapi dirinya dengan senapan bayonet dan dua pistol, lalu bersama massa bergerak menuju peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah sebagai penyerbuan Bastille.
Desmoulins sendiri kemudian dikenal sebagai salah satu suara lantang revolusi. Ia menulis pamflet, menyebarkan ide republik, dan menjadi bagian dari lingkaran radikal bersama Georges Danton dan Maximilien Robespierre. Namun, seperti banyak tokoh revolusioner, ia akhirnya juga menjadi korban: pada 1794 ia dieksekusi guillotine dalam masa Teror.

Makna dan Warisan Abadi
Seruan “Ambil senjata, kenakan kokarde!” dikenang sebagai titik balik di mana kata-kata mampu menggerakkan ribuan orang untuk bangkit melawan tirani. Itu menunjukkan kekuatan ide dan simbol dalam sejarah: satu seruan, satu lambang, bisa mengubah arah bangsa.
Awalnya, kokarde yang dipakai massa berwarna hijau, warna yang diasosiasikan dengan harapan, bahkan ada yang dibuat dari daun pepohonan di sekitar Palais-Royal. Namun, warna hijau juga dikenal sebagai lambang Comte d’Artois, saudara Raja yang konservatif dan anti-revolusi. Karena itu, kokarde hijau segera ditinggalkan dan diganti dengan warna tradisional Paris, yaitu merah dan biru, juga dikenal sebagai warna warna kota Paris yang dipadukan dengan putih. Kokarde tiga warna inilah yang kelak menjadi simbol Revolusi Prancis dan bendera nasional Prancis hingga hari ini.
Kokarde tidak sekadar aksesori. Ia adalah tanda identitas revolusioner yang mempersatukan massa dalam perjuangan, menunjukkan siapa yang berpihak pada rakyat dan siapa yang masih setia pada monarki absolut.

Sumber:
Doyle, William. The Oxford History of the French Revolution. Oxford University Press, 1989.
Desmoulins, Camille. Grand discours justificatif de Camille Desmoulins aux Jacobins, « Le Vieux Cordelier ». Vol. V (jurnal politik). Paris: Desenne, 25 Desember 1793 (quintidi nivôse, 1re décade, an II). BnF 10454785. Hal. 66.
Robert, Adolphe; Cougny, Gaston. Dictionnaire des parlementaires français (dalam bahasa Prancis). Vol. 2. Paris: Bourloton, 1890.
Schama, Simon. Citizens: A Chronicle of the French Revolution. Penguin, 1989.
“Camille Desmoulins,” Encyclopaedia Britannica.

























