Transisi kekuasaan dari Dinasti Qajar ke Dinasti Pahlavi pada 1925 merupakan puncak dari krisis berlapis yang telah menekan Iran sejak Revolusi Konstitusional 1906. Perubahan dinasti ini tidak terjadi sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai rangkaian tahapan yang saling menguatkan, mulai dari melemahnya legitimasi politik Qajar, fragmentasi keamanan, krisis fiskal, intervensi kekuatan asing, munculnya figur militer yang mampu memusatkan kekuasaan, hingga pengesahan perubahan dinasti melalui prosedur parlemen dan majelis konstituante.

Transisi Dinasti Qajar ke Dinasti Pahlavi 1909 Sampai 1926
Mengapa peralihan ini terjadi?
Transisi dari Dinasti Qajar ke Dinasti Pahlavi pada 1925 sering dibaca sebagai peristiwa perebutan takhta. Namun secara historis, peristiwa ini bertujuan dalam upaya rekonstruksi negara. Titik utamanya bukan sekadar pergantian raja, melainkan perpindahan pusat kekuasaan dari monarki konstitusional yang melemah menuju negara terpusat yang ditopang militer dan birokrasi modern. Dalam narasi pendukung Qajar, langkah Reza Khan dapat dianggap pengkhianatan karena ia naik dari pejabat militer dan menteri yang secara formal melayani shah Qajar lalu mengambil mahkota. Dalam narasi pendukung Pahlavi, peristiwa itu dipahami sebagai penyelamatan negara dari disintegrasi, fragmentasi, dan dominasi asing. Banyak karya akademik cenderung membaca proses ini sebagai konsekuensi keruntuhan kapasitas negara Qajar yang tidak lagi mampu memerintah efektif, sehingga kekuasaan de facto bergeser lebih dulu, baru kemudian disahkan secara hukum pada 1925.[1]
Bila transisi Qajar ke Pahlavi sering diperdebatkan sebagai pengkhianatan, penyelamatan, atau rekayasa asing, itu karena peristiwa ini berada di simpang tiga antara legalitas konstitusional, kekuatan koersif militer, dan tekanan geopolitik. Satu pihak dapat menilai tindakan menggulingkan raja yang masih sah sebagai pelanggaran sumpah setia. Pihak lain menilai bahwa negara yang nyaris lumpuh memerlukan “pemulihan” melalui pemusatan kekuasaan dan pembentukan tentara nasional. Di atas itu, terdapat pertanyaan yang tidak pernah benar benar selesai mengenai seberapa jauh Inggris memfasilitasi kemunculan Reza Khan pada 1921 dan bagaimana jaringan elit domestik menegosiasikan perubahan dinasti.[1][2][3]

Latar panjang krisis Qajar akhir 1906 sampai 1920
Revolusi Konstitusional dan lahirnya negara berparlemen
Revolusi Konstitusional 1906 melahirkan sistem monarki konstitusional dengan parlemen sebagai institusi kunci. Sejak fase ini, Iran memasuki periode tarik menarik yang tajam antara gagasan pembatasan kekuasaan raja, kerapuhan aparatur negara, serta tekanan kekuatan asing yang sejak abad ke 19 telah memperoleh pengaruh besar dalam urusan Iran.[4]
Konstitusionalisme memperkenalkan bentuk legalitas baru, tetapi tidak otomatis menciptakan kapasitas negara yang kuat. Di banyak provinsi, kewibawaan pusat lemah, jaringan pajak tidak stabil, dan keamanan sering bergantung pada kombinasi pasukan lokal, gendarmeri, atau kekuatan tribal. Di tengah situasi itu, negara mudah terseret krisis ketika terjadi guncangan besar seperti Perang Dunia Pertama.
Perang Dunia Pertama dan dislokasi negara
Iran mengalami pendudukan dan operasi militer berbagai pihak selama Perang Dunia Pertama. Pada masa inilah disintegrasi de facto semakin nyata, karena pusat tidak memiliki instrumen koersif dan fiskal yang memadai. Kondisi ini berkontribusi pada persepsi luas bahwa negara memerlukan satu otoritas pemersatu yang efektif.[5]
Krisis legitimasi dinasti dan reputasi pemerintahan
Pada akhir 1910 an dan awal 1920 an, reputasi dinasti Qajar memburuk akibat kombinasi korupsi, ketidakmampuan administratif, konflik faksi, dan persepsi bahwa raja dan istana dapat “dibeli” oleh kekuatan asing. Dalam biografi Encyclopaedia Iranica tentang Ahmad Shah, tergambar kritik keras terhadap karakter politiknya setelah dewasa, termasuk kelemahan pengambilan keputusan, kecenderungan mencari keuntungan finansial, dan praktik koruptif seperti spekulasi gandum.[5]
Krisis kapasitas negara di akhir Qajar
Akhir Qajar bukan hanya kisah raja lemah. Struktur negara menghadapi masalah keamanan, fiskal, dan kontrol wilayah. Banyak daerah memiliki otonomi de facto dan sering ditopang jaringan suku atau elite lokal. Dalam situasi seperti ini, pusat kekuasaan cenderung berpindah pada aktor yang memiliki alat paksa dan kemampuan menertibkan wilayah. Hal ini membantu menjelaskan mengapa perwira militer yang berhasil memusatkan komando dapat memperoleh legitimasi praktis, walau legitimasi konstitusionalnya menyusul belakangan.
Salah satu latar penting yang memperuncing delegitimasi adalah pengalaman Perang Dunia Pertama dan pasca perang, ketika Iran menghadapi tekanan kekuatan besar dan krisis ekonomi. Pada saat yang sama, muncul konflik ideologis dan gerakan bersenjata lokal, termasuk dinamika di Gilan yang kemudian melahirkan Soviet Republic of Gilan pada 5 Juni 1920, yang memperlihatkan rapuhnya kontrol pusat.[1][6]
Dua tokoh kunci, raja terakhir Qajar dan pendiri Pahlavi
Ahmad Shah Qajar, raja terakhir Dinasti Qajar
Ahmad Shah adalah penguasa ketujuh dan terakhir dari dinasti itu. Ia dinyatakan menjadi shah pada 16 Juli 1909 ketika ayahnya, Mohammad Ali Shah, dilengserkan karena dianggap menentang tatanan konstitusional. Karena Ahmad Shah masih sangat muda, pemerintahan praktis berjalan dalam situasi regensi dan tarik menarik elite. Ia dimahkotai secara formal pada 21 Juli 1914, tetapi penobatan tidak memulihkan kapasitas negara yang melemah.[5]

Ahmad Shah naik takhta dalam usia sangat muda. Karena belum dewasa, pemerintahan berjalan melalui wali dan para negarawan senior. Upaya awal untuk membentuknya menjadi monarki konstitusional dilakukan dengan menyingkirkan pengaruh istana yang dianggap merusak dan mengganti pengajar serta penasihatnya dengan figur modernis terkemuka.[5]
Namun ketika ia mencapai usia dewasa, sumber yang sama menilai ia justru mewarisi sisi terburuk dari politik istana, yakni keragu-raguan, ketergantungan pada lingkar keluarga, dan kecenderungan memprioritaskan kepentingan finansial pribadi.[5]
Poin paling menentukan dalam jatuhnya Qajar adalah absensi berkepanjangan Ahmad Shah. Ia meninggalkan Iran pada 5 November 1923, secara resmi untuk perawatan medis di luar negeri, dan tidak pernah kembali. Ia kemudian tinggal di Prancis dan wafat empat tahun setelah pemakzulan dinasti, pada usia 32 tahun. Banyak ringkasan populer menyebut ia memiliki kesehatan buruk dan tidak berminat mengurus negara, lalu perjalanannya berubah menjadi pengasingan setelah 1925.[7] Sumber Iranica juga mencatat laporan surat kabar Prancis tentang kekayaannya yang diperkirakan 75 juta franc, sebuah detail yang sering dipakai untuk menunjukkan jarak antara istana dan krisis domestik.[5]
Catatan yang sering luput adalah suasana psikologis politik saat keberangkatan. Iranica menyebut Ahmad Shah takut Reza Khan menempatkan agen di sepanjang rute kerajaan untuk membunuhnya, dan untuk menenangkan kecemasan itu Reza Khan mengantarnya hingga perbatasan Iran. Detail ini penting karena menunjukkan hubungan keduanya bukan sekadar formalitas kabinet, tetapi dipenuhi kecemasan, ketidakpercayaan, dan kalkulasi kekuasaan.[5]
Sumber Iranica yang paling otoritatif untuk biografi Ahmad Shah menyebut perjalanan itu dilakukan secara lahiriah untuk perawatan medis, tetapi tidak menetapkan diagnosis spesifik. Karena itu, pernyataan tentang jenis penyakit secara klinis tidak bisa ditegaskan hanya dari sumber ini.[5][7]
Ada ringkasan populer yang menyebut ia wafat karena influenza dan mengaitkannya dengan Flu Spanyol, tetapi itu terutama muncul dalam ringkasan ensiklopedik populer dan perlu kehati-hatian, karena sumber tersebut perlu ditinjau lagi.
Reza Khan, dari perwira menjadi Reza Shah Pahlavi
Reza Khan muncul sebagai figur militer yang menguasai instrumen kekuatan paling efektif saat itu. Ia terkait erat dengan Cossack Brigade, dan kudeta 1299 atau 1921 dilakukan oleh 1.500 sampai 3.000 Cossack yang ia komandoi. Mereka bergerak dari Qazvin, lalu pada malam 20 sampai 21 Februari 1921 menduduki titik penting di Teheran, menangkap calon lawan, dan selama tiga hari berikutnya kota direbut tanpa hambatan.[8]

Namun langkah Reza Khan bersifat bertahap. Ia tidak langsung menghapus monarki Qajar setelah 1921. Ia membangun dominasi dari dalam sistem, melalui jabatan Menteri Perang, lalu Perdana Menteri, lalu memfasilitasi pemakzulan Qajar oleh Majlis, dan akhirnya memperoleh legitimasi melalui majelis konstituante yang mengubah pasal konstitusi.[1]
Kronologi runtun transisi Qajar ke Pahlavi
1909 sampai 1914, awal pemerintahan Ahmad Shah dalam bayang krisis: Pelemahan struktural dan delegitimasi
16 Juli 1909 Ahmad Shah yang masihsangat muda dinyatakan menjadi shah. Pada fase awal, tatanan konstitusional masih diperebutkan dan keseimbangan elite masih rapuh. 21 Juli 1914 ia dimahkotai secara formal, tetapi negara menghadapi tekanan domestik, krisis internal dan internasional yang membuat monarki semakin simbolik.[5]
1914 sampai 1918, Perang Dunia Pertama dan pelemahan kontrol pusat
Iran menyatakan netral, tetapi tekanan kekuatan besar dan konflik di berbagai wilayah memperlemah pemerintahan pusat. Banyak daerah mengalami instabilitas dan negara menghadapi krisis yang memperkuat kebutuhan ketertiban. Episode ini menjadi latar mengapa gagasan negara terpusat dengan militer kuat memperoleh daya tarik.
1919, Krisis Kedaulatan: Anglo-Persian Agreement dan sentimen pengkhianatan
Pada 1919 muncul Anglo Persian Agreement, sebuah perjanjian sementara antara pemerintah Inggris dan Persia yang jika diratifikasi akan memberi Inggris posisi dominan dalam urusan keuangan dan militer Iran. Iranica menegaskan sifat perjanjian ini sebagai upaya memberi Inggris posisi kontrol yang sangat kuat.[9]
Dalam memori politik, perjanjian ini sering dipakai untuk melabeli elite tertentu sebagai kaki tangan Inggris, dan membantu menjelaskan mengapa kosakata pengkhianatan mudah melekat pada isu kedaulatan di akhir Qajar. Studi Grobien menyorot bagaimana reputasi Vosuq al Dowleh sebagai pengkhianat banyak berakar pada perannya dalam negosiasi perjanjian 1919, sekaligus menunjukkan perlunya membaca persoalan ini dengan bukti dan konteks, bukan mitos semata.[a][10]
1920, ancaman disintegrasi terlihat nyata, Soviet Republic of Gilan
Gerakan Jangali dan radikalisasinya berujung pada pembentukan Soviet Republic of Gilan pada 5 Juni 1920. Fakta ini penting karena menunjukkan pusat negara menghadapi tantangan ideologis dan militer di wilayah tertentu, yang memperkuat argumen pihak yang mendorong pemusatan kekuasaan.[6]
Februari 1921, kudeta 1299, perubahan pusat kekuasaan de facto
Kudeta 1299 atau 1921 adalah titik balik. Iranica menegaskan kudeta itu tidak diarahkan pada monarki Qajar sebagai institusi, melainkan pada kabinet Sepahdar e Azam Fath Allah Akbar dan oligarki tuan tanah serta birokrat yang mengontrol rezim. Kudeta dipimpin Sayyed Zia al Din Tabataba i dan Kolonel Reza Khan Mir Panj.[1]
Sumber Iranica tentang Cossack Brigade memberi detail operasional yang memperjelas cara kekuasaan direbut. Pasukan yang dipimpin Reza Khan menduduki Teheran dan menguasai titik penting kota.[8]
Mereka menggunakan Cossack Brigade, menduduki Teheran, menahan lawan, dan membuka fase pemerintahan yang memprioritaskan pembangunan angkatan bersenjata serta reposisi geopolitik termasuk agenda membatalkan perjanjian 1919 dan menandatangani perjanjian persahabatan Persia Soviet.[1]
Setelah 1921, Reza Khan bergerak memperkuat tentara nasional dan menundukkan pusat pusat otonomi bersenjata, baik yang berwujud gerakan lokal maupun kekuatan tribal. Upaya semacam ini sering disebut sebagai prasyarat lahirnya negara modern yang terpusat, tetapi juga memunculkan biaya sosial, represi, dan konflik baru.[11][12]

Contoh penting dalam fase konsolidasi ini adalah penekanan berbagai pemberontakan dan gerakan bersenjata yang menantang otoritas pusat. Pada periode yang saling berdekatan, pemerintah pusat menghadapi gerakan di kawasan utara dan barat laut, serta dinamika separatisme dan otonomi lokal. Salah satu kasus yang sering dikutip adalah penundukan perlawanan bersenjata yang terkait dengan Simko Shikak yang memuncak hingga 1922.
Pada saat yang sama, dinamika di kawasan Kaspia dan Gilan juga penting karena memperlihatkan hubungan rumit antara gerakan lokal, krisis pasca perang, dan kalkulasi internasional. Literatur tentang Mirza Kuchak Khan dan gerakan Jangali menempatkannya sebagai bagian dari lanskap retak pasca revolusi konstitusional dan pendudukan Perang Dunia Pertama.[6]
Program politik awal pemerintahan kudeta
Iranica menyebut program Sayyed Zia berisi reformasi besar negara dan masyarakat, memprioritaskan pembangunan angkatan bersenjata, serta mencakup usulan membatalkan perjanjian 1919 dan menandatangani perjanjian persahabatan Persia Soviet. Detail ini penting karena memperlihatkan kudeta memadukan agenda keamanan domestik dan reposisi geopolitik.[1]
Peran Inggris pada fase kudeta, bagaimana menilainya dengan tepat
Keterlibatan Inggris sering dibahas melalui peran figur seperti Edmund Ironside, dan sebagian sumber menilai ada fasilitasi atau dukungan. Namun literatur akademik juga mengoreksi mitos bahwa Inggris sepenuhnya menciptakan Reza Shah. Artikel Zirinsky menganalisis keyakinan lama itu, membedakan antara dukungan, peluang, dan kendali penuh, serta mengaitkannya dengan dinamika kebijakan Inggris di Iran pada awal 1920an.[3][1] Dengan demikian, penjelasan paling kuat adalah kombinasi. Ada konteks dan pengaruh asing, tetapi pergeseran kekuasaan juga dibentuk oleh krisis domestik dan kapasitas aktor lokal.
1921 sampai 1923, konsolidasi bertahap dari dalam sistem Qajar
Setelah kudeta, Reza Khan bergerak dari penguasaan militer menuju dominasi politik. Prosesnya bertahap. Ia menjadi pusat kekuatan yang menentukan jalannya kabinet dan keamanan negara. Pada tahap ini, Qajar masih ada secara formal, tetapi keputusan efektif semakin banyak ditentukan oleh Reza Khan dan jaringan militernya.[1]
Pada 28 Oktober 1923, Ahmad Shah menunjuk Reza Khan sebagai perdana menteri, lalu Ahmad Shah berangkat ke Eropa untuk alasan kesehatan dan tidak pernah kembali memerintah secara efektif dari dalam negeri.[7] Ini penting karena menunjukkan bahwa perpindahan kekuasaan terjadi melalui legalitas kabinet, bukan deklarasi sepihak. Namun legalitas ini bekerja dalam konteks kekuatan militer yang sudah dominan.[5]
Ini merupakan momen penting karena menciptakan kekosongan simbolik dan administratif, dimana Raja secara fisik absen dari pusat politik, kemudian Perdana menteri mengendalikan tentara dan aparat, serta Persepsi publik tentang kelemahan monarki semakin menguat.
5 November 1923, Ahmad Shah pergi ke Eropa untuk perawatan medis dan tidak kembali
Ahmad Shah meninggalkan Iran menuju Eropa. Iranica menekankan ia berangkat untuk perawatan medis dan tidak pernah kembali, dan juga memuat detail ketakutannya akan pembunuhan di rute perjalanan. Absensi raja menghilangkan pusat simbolik monarki, membuka jalan bagi pergeseran legal berikutnya.[5]
1924, opsi republik diuji lalu dihentikan
Periode ini sering dipadatkan, padahal menentukan. Iranica mencatat bahwa pada 13 Maret 1924 Majlis membentuk komite khusus untuk mempertimbangkan proklamasi republik. Namun penolakan kuat muncul, terutama dari kalangan ulama yang melihat model Turki dan takut konsekuensi sekularisasi. Terjadi mobilisasi massa di sekitar Majlis. Reza Khan pergi ke Qom untuk berunding, lalu kembali ke Teheran pada 1 April 1924 dan merekomendasikan penghentian diskusi republik. Episode ini menunjukkan bahwa hasil akhir berupa monarki Pahlavi bukan garis lurus sejak 1921. Peristiwa tersebut merupakan pilihan politik untuk memperoleh legitimasi dalam konfigurasi sosial keagamaan Iran.[5]
Gagasan Republik yang diusul oleh Reza Khan menghadapi resistensi kuat, terutama dari kalangan ulama. Di sini tampak bahwa walaupun Reza Khan sangat kuat secara militer, ia tetap membutuhkan kompromi dengan struktur sosial agama dan elit politik tertentu.[13][14]
Penundaan republik bukan berarti melemah. Justru fase ini sering dibaca sebagai pembelajaran politik. Ketika jalan republik tertutup, jalan dinasti baru melalui mekanisme konstitusional mulai lebih realistis.
1924 sampai 1925, perlawanan dari luar negeri dan tertutupnya jalan balik
Iranica menyebut bahwa dari Prancis, Ahmad Shah berusaha merekayasa pemberontakan bersenjata melawan Reza Khan dengan bantuan sekutu tepercayanya, Shaikh Khazal di Khuzestan. Ini menunjukkan Qajar tidak sepenuhnya pasif, tetapi upaya itu tidak mampu membalikkan keadaan.[5]
Menjelang 1925, Reza Khan memperoleh landasan yang semakin kuat. Ia telah memusatkan kendali militer, menekan banyak pesaing, dan menguatkan argumen bahwa negara memerlukan kepemimpinan yang hadir dan efektif. Pada titik ini, absensi Ahmad Shah menjadi faktor politik yang sangat merugikan monarki.[12][7]
Iranica juga menyinggung adanya rencana kepulangan Ahmad Shah pada Oktober 1925 yang tidak terlaksana. Kegagalan pulang membuat argumen pemakzulan semakin mudah bagi pihak yang ingin menutup era Qajar.[5]
31 Oktober 1925, pemakzulan Qajar oleh Majlis
Pada 31 Oktober 1925 Majlis menyetujui rancangan undang undang yang memakzulkan Ahmad Shah dan mengakhiri dinasti Qajar, sekaligus menyerahkan pemerintahan sementara kepada Reza Khan. Iranica memberi angka voting yang sangat spesifik, 80 mendukung, 20 abstain, 5 menolak.[5][7][15]
Artikel Zirinsky menambahkan detail penting tentang minoritas yang menolak. Disebutkan hanya sejumlah tokoh tertentu yang memberikan suara menolak, termasuk nama seperti Mossadegh dan Taqizadeh di antara yang tercatat.[3]
Sumber modern menekankan bahwa proses ini tidak berlangsung dalam ruang demokrasi yang sepenuhnya bebas karena pemusatan kekuasaan eksekutif dan pengaruh aparat keamanan. Namun tetap penting bahwa langkah yang diambil dibingkai sebagai tindakan institusional, bukan sekadar deklarasi sepihak.[16]
12 Desember 1925, majelis konstituante mengubah konstitusi dan menutup restorasi Qajar
Setelah keputusan 31 Oktober, diselenggarakan pemilihan dan pembentukan majelis konstituante 1925. Sejumlah kajian menyebut pemilu dan komposisi majelis ini dimanipulasi untuk memastikan dukungan, walaupun majelis juga memuat figur penting dari berbagai lapisan elit.
Pada 12 Desember 1925, majelis konstituante mengubah pasal pasal kunci konstitusi yang mengatur suksesi takhta, yakni pasal 36, 37, 38, dan 40. Perubahan itu memindahkan hak monarki konstitusional kepada Reza Shah dan keturunan laki lakinya, serta secara eksplisit menutup kemungkinan keluarga Qajar kembali naik takhta. Rumusan larangan bagi anggota keluarga Qajar untuk ditunjuk sebagai ahli waris juga tercantum tegas.[5][17]
Langkah penentu bukan hanya pemakzulan, melainkan perubahan konstitusi. Iranica mencatat bahwa majelis konstituante memodifikasi pasal 36, 37, 38, dan 40 konstitusi, lalu dengan suara 257 berbanding 3 menganugerahkan mahkota kepada Reza Shah dan ahli waris laki lakinya. Majelis juga menetapkan bahwa tidak ada anggota keluarga Qajar yang boleh naik takhta lagi. Ini adalah pemutusan jalur legal restorasi Qajar.[5][17]
Di titik inilah transisi memperoleh bentuk legal formal yang paling kuat dalam kacamata institusi konstitusional. Bagi pendukung Qajar, justru di sinilah letak “pengkhianatan” karena perubahan dinasti dilakukan oleh orang yang sebelumnya merupakan pejabat militer dan menteri dalam pemerintahan raja yang sah. Bagi pendukung Pahlavi, ini adalah “koreksi sejarah” melalui prosedur lembaga negara ketika raja absen dan dianggap tidak mampu menjalankan fungsi monarki konstitusional.
25 April 1926, penobatan Reza Shah
Penobatan mengukuhkan rezim baru secara simbolik. Iranica pada entri tentang Khazal Khan menyebut Reza Shah memahkotai dirinya dalam upacara sederhana di Golestan Palace pada 25 April 1926.[18]

Lihat Juga: Kekaisaran Utsmaniyah | Timeline Sejarah – Tinta Emas
Perdebatan tentang peran Inggris dan faktor asing
Keterlibatan Inggris dalam naiknya Reza Khan harus dipahami dalam dua lapisan. Lapisan pertama adalah dukungan atau dorongan pada tahap awal, terutama menjelang dan sekitar 1921. Di sini nama Edmund Ironside sering muncul dalam sumber akademik yang menekankan bahwa ia menginginkan stabilitas dan melihat Reza Khan sebagai figur yang bisa mengeksekusi perubahan keamanan, sambil tetap mengakui bahwa tingkat keterlibatan langsung Inggris pada detail rencana kudeta adalah bahan debat.[1][3]
Lapisan kedua adalah kalkulasi geopolitik. Inggris menghadapi kekhawatiran terhadap pengaruh Soviet, instabilitas kawasan, dan kepentingan energi. Tetapi penting juga dicatat bahwa pada masa Reza Shah, kapasitas Inggris untuk mengintervensi politik Iran secara langsung cenderung menurun dibanding masa sebelumnya, karena Reza Shah menutup banyak kanal patronase dan menguatkan kedaulatan administrasi.[19]
Artinya, jika ada fasilitasi pada awal, itu tidak otomatis berarti Reza Shah menjadi “boneka” jangka panjang. Banyak kebijakan Reza Shah justru mengarah pada pemusatan kontrol negara dan pembatasan ruang manuver pihak asing, meskipun relasi ekonomi seperti minyak tetap menjadi sumber ketegangan.

Mekanisme transisi, dari de facto ke de jure
Transisi ini paling jelas jika dibaca sebagai dua lapis:
1. Lapis de facto
Sejak 1921, Reza Khan menguasai pasukan yang efektif, menguasai keamanan ibu kota, dan dapat menentukan kabinet. Cossack Brigade menjadi alat utama perebutan kekuasaan awal, lengkap dengan pendudukan titik strategis dan penahanan lawan.[8]
2. Lapis de jure
Legalitas baru muncul setelah Majlis memakzulkan Qajar pada 31 Oktober 1925, lalu majelis konstituante mengubah pasal konstitusi dan memahkotai Reza Shah pada 12 Desember 1925. Larangan bagi keluarga Qajar untuk naik takhta lagi menandai penutupan total jalur konstitusional mereka.[5]
Pandangan terkait perpindahan kekuasaan
Mengapa kata pengkhianatan muncul, dan mengapa sebagian sejarawan memilih istilah lain
Bagi loyalis monarki, Reza Khan adalah pejabat militer dan menteri yang diangkat dalam sistem Qajar, sehingga pengambilalihan takhta dapat dibaca sebagai pelanggaran loyalitas tradisional.
Namun kerangka akademik sering lebih menekankan keruntuhan internal Qajar. Dalam kerangka ini, tindakan Reza Khan dilihat sebagai hasil dari kekosongan kapasitas, bukan sekadar tindakan individu. Iranica menekankan kudeta awal bukan untuk menjatuhkan monarki Qajar, tetapi kabinet dan oligarki, memperlihatkan pergeseran itu berkembang bertahap, bukan deklarasi sekali jadi.[1]
Dampak setelah berdirinya Pahlavi, akibat langsung dan perubahan struktural
Pemusatan otoritas negara sebagai prioritas utama
Iranica tentang ekonomi periode Pahlavi menegaskan bahwa setelah berkuasa, prioritas Reza Shah adalah menegakkan otoritas negara di seluruh negeri dan membangun birokrasi pusat yang kuat. Ini selaras dengan proyek negara modern yang menggantikan pola pemerintahan yang lebih longgar di akhir Qajar.[20]
Perubahan dinasti memberi legitimasi baru bagi pemusatan kekuasaan. Negara bergerak menuju model yang menekankan stabilitas, komando tunggal, dan integrasi provinsi melalui tentara dan birokrasi. Dalam banyak studi, inilah fase pembentukan negara modern Iran, tetapi juga fase penyusutan pluralisme politik, karena parlemen dan kelompok oposisi semakin ditekan.[11][12]
Salah satu konsekuensi penting adalah melemahnya ruang oposisi di lembaga legislatif. Tokoh tokoh yang menolak perubahan dinasti berada dalam posisi rentan. Literatur menyebut adanya oposisi terbatas yang berani menolak langkah perubahan dinasti, termasuk Hasan Modarres dan beberapa deputi lain.[16][21]
Reformasi hukum dan peradilan
Setelah 1925, reformasi hukum menjadi instrumen sentral pembangunan negara. Salah satu figur kunci adalah Ali Akbar Davar yang memimpin restrukturisasi peradilan, termasuk pendirian pengadilan baru, rekrutmen hakim, dan pembentukan registri dokumen serta properti. Reformasi ini sering dibaca sebagai bagian dari proyek negara untuk menggantikan mekanisme hukum yang terfragmentasi dengan sistem yang lebih terstandar dan dapat dikendalikan pusat.[22][23][24]
Dampaknya dapat dilihat dari dua sisi: Di satu sisi, muncul administrasi hukum yang lebih modern dan terpusat. Di sisi lain, negara memperluas kapasitas untuk mengintervensi masyarakat dan menertibkan oposisi melalui perangkat legal
Negara, militer, dan penundukan kekuatan lokal
Proyek pemusatan berarti negara menekan otonomi elite lokal dan jaringan suku. Ini adalah salah satu dampak paling nyata karena mengubah peta kekuasaan sosial. Dalam banyak daerah, proses ini melibatkan operasi keamanan, pelucutan senjata, dan restrukturisasi administrasi.
Perubahan orientasi luar negeri, antara Inggris dan Soviet
Kudeta 1921 membawa agenda membatalkan perjanjian 1919 dan menandatangani perjanjian persahabatan dengan Soviet.[1]
Untuk konteks perjanjian dengan Soviet, Iranica tentang sejarah diplomatik Laut Kaspia menyatakan bahwa perundingan Persia Soviet menghasilkan Treaty of Friendship bertanggal 26 Februari 1921 yang menjadi signifikan bagi hubungan kedua negara selama beberapa dekade.[25]
Artinya, rezim baru sejak awal membaca ancaman dan peluang geopolitik, dan menggunakan diplomasi untuk mengimbangi dominasi satu kekuatan.
Standardisasi budaya politik dan simbol negara
Salah satu dampak penting adalah proyek standardisasi simbolik, termasuk busana. Iranica menjelaskan bahwa negara menerapkan kebijakan topi Pahlavi dan seragam tertentu bagi pegawai pemerintah dan pelajar, dengan pengecualian bagi ulama dan pemuka agama resmi, dan kebijakan ini diberlakukan mulai 21 Maret 1929 di kota kota, lalu setahun kemudian di desa. Kebijakan ini bukan sekadar mode, tetapi penanda negara modern yang ingin mengatur ruang publik.[26]
Negara Pahlavi awal menggunakan kebijakan busana sebagai simbol modernitas dan homogenisasi identitas warga. Iranica mencatat kebijakan awal yang mewajibkan pejabat sipil dan deputi parlemen memakai pakaian buatan Persia pada 1923, lalu perluasan ke militer melalui perintah menteri perang. Ini memperlihatkan bahwa proyek simbolik modernisasi telah dimulai bahkan sebelum perubahan dinasti formal 1925.[26]
Di tingkat kota tertentu seperti Isfahan, Iranica mencatat bahwa penerapan kode busana seragam dari 1928 menghasilkan proses deculturation karena memotong tradisi busana kelompok religius dan guild. Iranica juga mencatat kebijakan pelarangan jilbab 1936 memicu banyak perempuan menghindari ruang publik hingga kebijakan berubah setelah akhir kekuasaan Reza Shah. Ini menunjukkan modernisasi juga menghasilkan friksi sosial yang nyata.[27]
Pada fase berikutnya, kebijakan busana berkembang menjadi regulasi yang lebih luas dan lebih memaksa. Sejumlah studi akademik menempatkan kebijakan ini sebagai bagian dari nation building yang menegaskan otoritas negara hingga ranah tubuh dan penampilan warganya.[28][29]
Konsekuensinya adalah ketegangan yang meningkat dengan kelompok religius dan sebagian masyarakat yang memaknai kebijakan semacam itu sebagai pemaksaan kultural.
Dampak ekonomi dan kepemilikan tanah
Pemusatan negara berjalan bersama restrukturisasi kepemilikan. Sejumlah kajian menyebut Reza Shah melakukan akumulasi tanah dan properti, termasuk tanah lawan politik dan elite lama. Penelitian akademik tentang akuisisi tanah oleh Reza Shah menekankan konsekuensi sosial dan politik dari peralihan kepemilikan lahan dan penggantian elite lokal dengan orang orang kepercayaan rezim.[30]
Sumber lain tentang transformasi sosial ekonomi menyebut adanya konfiskasi tanah dari warlord pemberontak, terutama kepala suku, dan dari pemilik besar lainnya pada awal masa Reza Shah.[31]
Walau banyak detail kasus bersifat regional, pola besarnya jelas, negara terpusat cenderung mengubah struktur kepemilikan untuk mengunci loyalitas dan melemahkan sumber daya oposisi.
Efek terhadap oposisi dan kultur politik
Ketika negara menjadi lebih terpusat, ruang oposisi mengecil. Episode republik 1924 memperlihatkan bagaimana tekanan massa, negosiasi ulama, dan kalkulasi kekuasaan dapat menghentikan satu opsi politik. Sesudah dinasti berdiri, kecenderungan kontrol yang lebih ketat terhadap oposisi menjadi bagian dari konsekuensi pemusatan.
Relasi negara dan ulama, dari negosiasi menuju penundukan bertahap
Peralihan dari percobaan republik 1924 yang ditolak ulama menuju jalur monarki Pahlavi menunjukkan bahwa negara masih mempertimbangkan sensitivitas religius. Namun setelah struktur negara terpusat menguat, kebijakan seperti wajib militer dan reformasi sosial memicu resistensi dan konflik politik baru. Kajian tentang gerakan anti wajib militer 1927 memperlihatkan bagaimana negara menggunakan kombinasi strategi politik, legitimasi keagamaan tertentu, dan represi administratif untuk memastikan program modernisasi berjalan.[32]
Akibat politik jangka menengah, keuntungan dan biaya sosial
Keuntungan yang sering diklaim oleh pendukung Pahlavi
Pendukung Pahlavi biasanya menekankan beberapa capaian struktural:
- Pemulihan keamanan dan integrasi wilayah
- Penciptaan tentara nasional yang lebih efektif
- Standardisasi birokrasi dan hukum
- Kapasitas negara untuk membangun infrastruktur dan mengelola administrasi secara lebih terpusat
Kerangka ini sejalan dengan interpretasi yang melihat runtuhnya Qajar sebagai konsekuensi dari keruntuhan internal, bukan sekadar perebutan takhta.[11][12]
Biaya yang ditekankan oleh kritik dan pendukung Qajar
Sebaliknya, kritik menyoroti bahwa pemusatan negara berlangsung melalui:
- Penyempitan ruang parlemen dan oposisi
- Kekerasan politik dan represi terhadap kelompok tertentu
- Pelemahan otonomi lokal dan struktur tradisional melalui operasi militer
- Penguatan otoritarianisme yang kemudian menjadi pola jangka panjang
Dalam perspektif ini, legalitas formal 1925 tidak otomatis berarti prosesnya bebas dari paksaan. Pemilu majelis konstituante yang disebut dimanipulasi sering dipakai untuk menunjukkan ketimpangan relasi kuasa pada momen transisi.[16]
Nasib Dinasti Qajar dan keluarga setelah 1925, detail yang sering tertinggal
Penutupan jalur konstitusional bagi Qajar
Majelis konstituante 12 Desember 1925 tidak hanya memahkotai Reza Shah. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada anggota keluarga Qajar yang boleh menjadi shah. Ini berarti Qajar tidak sekadar kalah politik, tetapi diputus secara hukum dari masa depan monarki.[5]
Ahmad Shah dalam eksil di Prancis dan wafat
Setelah berangkat 5 November 1923, Ahmad Shah tinggal di Prancis dan wafat empat tahun kemudian pada usia 32. Iranica mencatat laporan surat kabar Prancis bahwa ia meninggalkan kekayaan sekitar 75 juta franc.[5]
Tentang sebab wafat, tidak diketahui pasti penyebabnya, kemungkinan penyakit yang dideritanya selama berobat ke Prancis. Ringkasan populer menyebut influenza, tetapi sumber biografi Iranica tidak mengunci diagnosis.
Putra mahkota dan eksil keluarga inti
Tokoh kunci lain adalah Mohammad Hassan Mirza, adik Ahmad Shah dan putra mahkota Qajar. Ringkasan biografis menyebut bahwa tak lama setelah pemakzulan 1925, ia dan keluarganya dikirim ke pengasingan permanen di Inggris. Ia juga dilaporkan menyatakan klaim sebagai pewaris sah dalam pengasingan pada 1930 dan wafat pada 1943, lalu dimakamkan juga di Karbala. Ini menggambarkan langkah rezim baru untuk meminimalkan risiko restorasi politik sekaligus memutus jaringan simbolik dinasti lama.

Nasib jaringan aristokrasi Qajar yang lebih luas: Apa yang terjadi pada elite Qajar dan aristokrasi lama?
Perubahan dinasti tidak berarti semua bangsawan lama lenyap. Beberapa sumber menyebut banyak bangsawan dan notabel beradaptasi, berpindah loyalitas, dan mempertahankan sebagian status dan kekayaan mereka, sekalipun harus berbagi ruang dengan elit baru yang dibawa Reza Shah. Diantara mereka ada yang tersingkir, ada yang menyesuaikan diri, ada yang kehilangan aset, dan ada pula yang masuk ke dalam struktur baru sebagai birokrat atau teknokrat. Namun bagi keluarga inti dinasti, hasil formal 1925 jelas memarginalkan mereka dari pusat kekuasaan negara. Larangan konstitusional atas suksesi Qajar membuat posisi mereka lebih mirip keluarga aristokrat tanpa takhta daripada alternatif politik yang realistis, setidaknya selama masa Reza Shah. Secara garis besar, rezim baru menutup jalur simbolik dan legal Qajar, sambil merekayasa ulang struktur elite melalui pemusatan negara dan pengaturan kepemilikan.[5][17][33]
[te_image_set id=”99598″]
Catatan Kaki
- [a] https://research-repository.st-andrews.ac.uk/bitstream/handle/10023/25391/Thesis-Philip-Grobien-complete-version.pdf?sequence=3&isAllowed=y
Daftar Pustaka
-
[1]
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12
(2014). COUP D’ETAT OF 1299/1921. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/coup-detat-of-1299-1921 -
[5]
1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,12,13,14,15,16,17,18,19,20,21
(2014). AḤMAD SHAH QĀJĀR. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/ahmad-shah-qajar-1909-1925-the-seventh-and-last-ruler-of-the-qajar-dynasty -
[6]
1,2,3
(1992). JANGALI MOVEMENT. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/jangali-movement -
[8]
1,2,3
(2014). COSSACK BRIGADE. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/cossack-brigade -
[9]
(2014). ANGLO-PERSIAN AGREEMENT OF 1919. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/anglo-persian-agreement-1919 -
[13]
(2014). IRAN ii. IRANIAN HISTORY (2) Islamic period (page 5): A social history of Iranian industrialization and labour with reference to the textile industry. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/iran-ii2-islamic-period-page-5 -
[18]
(1992). ḴAZʿAL KHAN. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/kazal-khan -
[19]
(2014). Great Britain v. British influence during the Reżā Shah period, 1921-41. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/great-britain-v -
[20]
(1992). ECONOMY ix. IN THE PAHLAVI PERIOD. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/economy-ix -
[22]
(2014). DĀVAR, ʿALĪ-AKBAR. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/davar-ali-akbar -
[23]
(2014). JUDICIAL AND LEGAL SYSTEMS v. JUDICIAL SYSTEM IN THE 20TH CENTURY. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/judicial-and-legal-systems-v-judicial-system-in-the-20th-century -
[25]
(1992). CASPIAN SEA ii. DIPLOMATIC HISTORY IN MODERN TIMES. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/caspian-sea-ii-diplomatic-history-in-modern-times -
[26]
1,2
(1992). CLOTHING xi. In the Pahlavi and post-Pahlavi periods. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/clothing-xi -
[27]
(1992). Isfahan ix. THE PAHLAVI PERIOD AND THE POST-REVOLUTION ERA. Encyclopaedia Iranica. Diakses pada 3 February 2026. https://www.iranicaonline.org/articles/isfahan-ix-the-pahlavi-period-and-the-post-revolution-era -
[33]
(2017). Historical Documents - Office of the Historian: New Lights on the Failure of the 1927 Anti-Conscription Movement in Iran. history.state.gov. Diakses pada 3 February 2026. https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1969-76ve04/d180
-
[2]
Haq, M. F. (1968). THE CONSTITUTION OF IRAN IN ITS HISTORICAL SETTING. JSTOR, 21(1). https://www.jstor.org/stable/41392900 (p. 3-13) -
[3]
1,2,3,4Michael P. Zirinsky (1992). Imperial Power and Dictatorship: Britain and the Rise of Reza Shah, 1921–1926. International Journal of Middle East Studies, 24(4), 639–663. https://doi.org/10.1017/s0020743800022388
-
[4]
Nezam-Mafi, M. E. (2012). Qajar Iran (1795–1921). Oxford Handbooks Online, 319–345. https://doi.org/10.1093/oxfordhb/9780199732159.013.0015 -
[10]
Grobien, P. H. (2022). The Origins and Intentions of the Anglo-Persian Agreement 1919: A Reassessment. Iran, 62(2), 278-293. https://doi.org/10.1080/05786967.2022.2080581 -
[11]
1,2,3
Syed Waqar Hasib (2004). The Iranian Constitution: An Exercise in Contradictions. Al Nakhlah, 1(3). https://ciaotest.cc.columbia.edu/olj/aln/aln_spring04/aln_spring04a.pdf -
[14]
Martin, V. (2003). Mudarris, Republicanism and the Rise to Power of Riza Khan, Sardar-i Sipah. British Journal of Middle Eastern Studies, 21(2), 199–210. https://doi.org/10.4324/9780203060636-5/mudarris-republicanism-rise-power-riza-khan-sardar-sipah-vanessa-martin (p. 199–210) -
[16]
1,2,3Richard, Y. (2019). Rezā Khān to Rezā Shāh: Defender of the Nation. Cambridge University Press, 161-190. https://doi.org/10.1017/9781108569071.008
-
[24]
François Ameli (2015). The Role of the Judiciary in implementing Western Law in Iran under the Pahlavi Dynasty. CNRS Éditions, 141-145. https://doi.org/10.4000/books.editionscnrs.13002 (p. 141-145) -
[28]Chehabi, H. E. (1993). Staging the Emperor's New Clothes: Dress Codes and Nation-Building under Reza Shah. Iranian Studies, 26(3-4), 209-233. https://doi.org/10.1080/00210869308701800
-
[29]
Kashani-Sabet, F. (2011). Defrocking the Nation: Unveiling and the Politics of Dress. Conceiving Citizens, 147-164. https://doi.org/10.1093/acprof:osobl/9780195308860.003.0008 -
[30]Mirdar, M. & Pourafarin, F. (2017). Social and Political Consequences of Reza Shah’s Acquisition. Journal of History Culture and Art Research, 6(4), 233. https://doi.org/10.7596/taksad.v6i4.1129
-
[31]Esfahani, H. S. & Gürakar, E. Ç. (2014). SOCIAL ORDER, RENTS, AND ECONOMIC DEVELOPMENT IN IRAN SINCE THE EARLY 20TH CENTURY. Understanding the Political Economy of the Arab Uprisings, 6(4), 219-262. https://doi.org/10.1142/9789814596015_0010
-
[32]Yousefi, N. a. (2017). Division and Discord among the Shia ʿUlamāʾ: New Lights on the Failure of the 1927 Anti-Conscription Movement in Iran. Iranian Studies, 50(5), 705-733. https://doi.org/10.1080/00210862.2017.1336588
-
[7]
1,2,3,4,5
Glenn E. Curtis & Eric J. Hooglund (2008). Iran: A country study. Library of Congress, Federal Research Division. ISBN: 9780844411873. https://openlibrary.org/books/OL16681441M/Iran -
[17]
1,2,3Helen Miller Davis (2012). Constitutions, Electoral Laws, Treaties of States in the Near and Middle East. Literary Licensing, LLC. ISBN: 9781258340261. https://books.google.co.id/books?id=Fkw2LwEACAAJ&dq=isbn%3A9781258340261&hl=&source=gbs_api
-
[21]
Frithiof Rundgren (1975). Proceedings of the Vith Congress of Arabic and Islamic Studies, Visby-Stockholm 1972. University of Virginia: Almqvist & Wiksell International, 1975. ISBN: 9789004618503. https://books.google.co.id/books?id=uuKXEQAAQBAJ&dq=isbn%3A9789004618503&hl=&source=gbs_api
-
[12]
1,2,3,4Serhan Afacan (2015). State, society and labour in Iran, 1906-1941: A social history of Iranian industrialization and labour with reference to the textile industry. Leiden University. Leiden University. Diakses pada 3 February 2026. https://scholarlypublications.universiteitleiden.nl/access/item%3A2860571/view
-
[15]
Carniel Gomes, I. (2023). Implications of political islam on governance: a case study on Iran. Università di Padova. Università di Padova. Diakses pada 3 February 2026. https://hdl.handle.net/20.500.12608/64001

























