Invasi Israel

Invasi Israel ke Suriah 2024: Stabilitas mencekam di Timur Tengah

Tinta Emas
Tinta Emas 11 December 2024
13 menit --:-- 78x
Dukung Kami

Invasi Israel ke Suriah dilancarkan setelah pertempuran yang menentukan di Damaskus antara kelompok oposisi Suriah dan Suriah Ba’athis sejak 27 November hingga jatuhnya rezim Assad pada 7–8 Desember 2024. Situasi ini dimanfaatkan oleh pasukan Israel untuk melancarkan operasi militer di Kegubernuran Quneitra, Suriah.

Unit-unit lapis baja maju ke zona penyangga Pasukan Pengamat Pelepasan PBB antara Suriah dan Dataran Tinggi Golan yang diduduki serta menargetkan area pedesaan di Provinsi Quneitra dengan tembakan artileri. Operasi ini menjadi penempatan pertama pasukan Israel di wilayah Suriah dalam 50 tahun, sejak perjanjian gencatan senjata 31 Mei 1974 setelah Perang Yom Kippur.

Laporan media Suriah mengatakan pesawat tempur Israel telah melakukan puluhan serangan di seluruh negeri, termasuk di ibu kota, Damaskus.

Invasi Israel
Asap mengepul dari kapal angkatan laut Suriah yang hancur dalam serangan semalam oleh Israel di kota pelabuhan Latakia pada 10 Desember 2024. – Utusan khusus PBB untuk Suriah pada 10 Desember lalu meminta Israel untuk menghentikan gerakan militer dan pengebomannya di dalam Suriah, beberapa hari setelah jatuhnya Presiden Bashar al-Assad. (Foto: AAREF WATAD / AFP)

Runtuhnya Perjanjian Perbatasan Israel-Suriah 1974

Pada 8 Desember 2024, Israel melancarkan langkah yang mengejutkan dengan mengerahkan unit lapis baja ke zona penyangga yang dikelola oleh Pasukan Pengamat Pelepasan Pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNDOF). Langkah ini dilakukan menyusul jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah. Target awal dari operasi ini adalah pedesaan tengah di Kegubernuran Quneitra, yang dihujani tembakan artileri oleh pasukan Israel. Keputusan ini menjadi momen historis, menandai pertama kalinya pasukan Israel kembali ke wilayah tersebut sejak perjanjian gencatan senjata pada 31 Mei 1974, yang mengakhiri Perang Yom Kippur.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengungkapkan bahwa keruntuhan rezim Suriah menyebabkan runtuhnya perjanjian perbatasan tahun 1974. Dia menyatakan bahwa Tentara Arab Suriah telah meninggalkan posisinya, menciptakan kekosongan yang berpotensi menjadi ancaman bagi keamanan Israel. Sebagai langkah antisipasi, Netanyahu memerintahkan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) untuk sementara mengambil alih Garis Ungu yang sebelumnya dipetakan pada 1974. Operasi ini berlangsung di bawah nama kode Operasi Panah Bashan (Mivtza Hatz Habshen) dan mencakup serangan udara dan laut terhadap target-target militer di Suriah.

Menteri Pertahanan Israel, Katz, memberikan arahan militer yang jelas pada 9 Desember. IDF diperintahkan untuk mengambil alih zona penyangga secara penuh, membangun zona keamanan yang terbebas dari senjata berat, serta menghentikan jalur penyelundupan senjata dari Iran ke Lebanon melalui Suriah. Langkah ini dipandang sebagai strategi untuk mengamankan perbatasan sekaligus memitigasi ancaman dari kelompok bersenjata yang beroperasi di wilayah tersebut.

Mengutip dari BBC, Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa terdapat lebih dari 100 serangan terhadap target-target militer. Sebuah pusat penelitian yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia termasuk di antara situs-situs yang diserang, menurut laporan media lokal. Israel mengatakan bahwa mereka bertindak untuk menghentikan senjata yang jatuh “ke tangan para ekstremis” setelah penggulingan rezim Assad.

Ketegangan dan awal mula Konflik Israel-Suriah memuncak

Dataran Tinggi Golan, yang telah diduduki Israel sejak Perang Enam Hari 1967, menjadi pusat dari dinamika konflik ini. Pada tahun 1981, Israel mencaplok wilayah tersebut secara sepihak, sebuah tindakan yang dikecam oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai ilegal. Meski mendapat pengakuan Amerika Serikat pada 2019, tindakan Israel terus menjadi kontroversi di mata komunitas internasional. Selama masa pendudukannya, Israel aktif mempromosikan pemukiman di Dataran Tinggi Golan, sebuah kebijakan yang menambah ketegangan dengan negara-negara tetangga.

Pada November 2024, UNDOF menuduh Israel melanggar Perjanjian Pelepasan 1974 dengan melakukan aktivitas teknik dan pengerahan tank di zona demiliterisasi. PBB menyatakan bahwa pihaknya telah berulang kali mengajukan protes kepada IDF atas pelanggaran ini. Namun, Israel bersikeras bahwa langkah tersebut dilakukan demi membangun penghalang di wilayahnya sendiri untuk melindungi keamanan perbatasan. Pemerintah Israel juga menyebutkan bahwa koordinasi dengan pejabat PBB terus dilakukan untuk menghadapi ancaman di wilayah tersebut.

Jatuhnya rezim Assad membawa gelombang baru ketidakstabilan di kawasan. Pada Desember 2024, oposisi Suriah, yang terdiri dari berbagai kelompok, melancarkan serangan besar-besaran untuk merebut kendali negara. Menteri Urusan Diaspora dan Pemberantasan Antisemitisme Israel, Amichai Chikli, menyatakan keprihatinannya terhadap situasi ini. Dia menyoroti bahwa sebagian besar wilayah Suriah kini berada di bawah kendali kelompok ekstremis seperti al-Qaeda dan Daesh. Untuk itu, dia mendesak Israel memperkuat pertahanan di Gunung Hermon, bagian dari Dataran Tinggi Golan, guna menghadapi potensi ancaman dari pemerintahan baru Suriah.

Situasi di Timur Tengah kembali memanas dengan invasi Israel ke wilayah Suriah. Langkah ini tidak hanya mencerminkan dinamika geopolitik yang kompleks, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan stabilitas kawasan. Peningkatan aktivitas militer di wilayah ini dapat memicu eskalasi konflik yang lebih luas, menambah beban bagi upaya diplomasi internasional untuk menciptakan perdamaian di Timur Tengah.

Baca Juga: Pertempuran Sarikamish: Ribuan Tentara Ottoman Tewas Membeku – Tinta Emas

Invasi Israel ke Suriah: Ketegangan Memanas di Dataran Tinggi Golan

Israel terus memperkuat posisinya di Dataran Tinggi Golan menyusul kemajuan oposisi Suriah di wilayah selatan. Pada 8 Desember 2024, Divisi 210 Angkatan Pertahanan Israel (IDF) mengerahkan pasukan tambahan untuk mengantisipasi ancaman potensial dari konflik yang semakin memanas. Langkah ini menjadi sorotan karena mempertegas posisi Israel di kawasan tersebut.

Ketika kelompok oposisi Suriah menduduki kota Hader di selatan, IDF mengambil tindakan cepat. Pasukan Israel bergerak lebih jauh ke Dataran Tinggi Golan untuk menghadang pos-pos PBB yang berada di zona penyangga. Kehadiran militer Israel di wilayah ini juga semakin signifikan, dengan penguatan infrastruktur pertahanan yang mencakup penempatan unit lapis baja.

Radio Angkatan Darat Israel melaporkan bahwa operasi dini pada 8 Desember melibatkan pergerakan tank-tank tempur utama melintasi pagar perbatasan di Golan. Operasi ini dilakukan untuk memperkuat garis pertahanan Israel terhadap potensi serangan dari arah Suriah. Komando Utara IDF menyatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas keamanan di perbatasan.

Invasi Israel meluas ke Kegubernuran Quneitra, dengan pasukan memasuki kota Khan Arnabeh dan pusat kota al-Baath. Media lokal Suriah melaporkan bahwa Unit Shaldag (Unit 5101) IDF bahkan mencapai sisi Gunung Hermon yang dikuasai Suriah. Runtuhnya perjanjian gencatan senjata 1974, memungkinkan IDF mengambil langkah tegas untuk mengamankan wilayah strategis.

Selama operasi tersebut, IDF memberlakukan jam malam di lima desa Suriah, termasuk Quneitra. Juru bicara militer Israel, Avichay Adraee, meminta penduduk di wilayah perbatasan untuk tetap berada di dalam rumah. Langkah ini dilakukan untuk menghindari potensi eskalasi yang lebih besar.

Pada hari yang sama, Al Arabiya melaporkan bahwa Israel telah menguasai Tell al-Hara, sebuah lokasi strategis di wilayah Suriah. Dua hari kemudian, media internasional seperti Al Jazeera dan Enab Baladi mengonfirmasi keberadaan tank-tank Israel di beberapa desa, termasuk Beer Ajam. Meskipun demikian, militer Israel membantah klaim bahwa mereka bergerak mendekati Damaskus.

Menteri Pertahanan Israel menyatakan bahwa tujuan utama operasi ini adalah menciptakan zona pertahanan steril di Suriah selatan. Langkah tersebut dianggap penting untuk mencegah pengorganisasian kelompok teroris di wilayah tersebut. Israel juga menyebut keberadaan mereka di zona penyangga sebagai langkah sementara hingga situasi di Suriah stabil.

Reaksi dari pihak oposisi Suriah beragam. Sumber yang dekat dengan kelompok HTS berharap bahwa langkah Israel ini bersifat sementara. Mereka menginginkan pembaruan perjanjian 1974 yang dapat membawa stabilitas. Namun, sumber lain mengungkapkan kekhawatiran kemungkinan IDF mendorong masuk lebih jauh ke dalam wilayah Suriah.

Di sisi lain, langkah Israel ini memicu kekhawatiran di kalangan internasional. Banyak pihak melihatnya sebagai eskalasi yang berpotensi memperburuk situasi di Timur Tengah. Dengan latar belakang konflik yang kompleks, tindakan Israel di Dataran Tinggi Golan menjadi titik kritis dalam hubungan geopolitik kawasan.

Penguasaan wilayah strategis seperti Tell al-Hara memberikan keuntungan taktis bagi Israel. Namun, langkah ini juga membuka risiko konflik yang lebih luas. Dengan dinamika yang terus berkembang, situasi di Dataran Tinggi Golan akan tetap menjadi perhatian utama bagi komunitas internasional.

Invasi Israel ke Suriah menyoroti betapa rapuhnya stabilitas di kawasan tersebut. Ketegangan di Dataran Tinggi Golan bukan hanya tentang strategi militer, tetapi juga tentang upaya mempertahankan pengaruh politik di tengah konflik berkepanjangan. Keberlanjutan langkah ini akan sangat bergantung pada respons dari aktor-aktor regional dan global.

Seiring berjalannya waktu, hasil dari operasi ini akan menentukan arah hubungan Israel-Suriah di masa depan. Bagi banyak pihak, langkah Israel ini menegaskan bahwa konflik di kawasan tersebut masih jauh dari selesai. Ketidakpastian terus membayangi, meninggalkan pertanyaan besar tentang masa depan perdamaian di Timur Tengah.

Invasi Israel di Suriah: Serangan Udara Masif Hancurkan Infrastruktur Strategis

Pada 8 Desember 2024, Angkatan Udara Israel meluncurkan serangkaian serangan udara terkoordinasi yang menargetkan fasilitas penyimpanan senjata strategis di Suriah selatan. Operasi ini bertujuan mencegah senjata tersebut jatuh ke tangan pasukan oposisi. Pejabat Israel menyebutkan bahwa target utama mencakup senjata kimia seperti gas mustard dan VX, baterai radar, kendaraan rudal pertahanan udara buatan Rusia, dan persediaan rudal Scud. Serangan ini mencerminkan eskalasi signifikan dalam konflik regional yang telah berlangsung lama.

Laporan dari kelompok Helm Putih atau Pasukan Pertahanan Sipil Suriah (SCD) menyatakan bahwa tidak ditemukan bukti adanya asap beracun atau kasus keracunan di antara warga sipil selama pemadaman api. Namun, ledakan dahsyat dilaporkan terjadi di markas intelijen dan bea cukai Suriah di Damaskus. Selain itu, serangan juga menghantam Pangkalan Udara Mezzeh, sebuah situs militer penting di Suriah.

Pada dini hari 9 Desember, Israel memperluas serangannya ke wilayah Kegubernuran Daraa dan Suwayda di Suriah selatan. Enam serangan udara menghantam pangkalan udara di utara Suwayda, sementara depot amunisi di Nawa dan pedesaan Daraa juga menjadi sasaran. Di malam harinya, serangan udara dan laut menargetkan Pelabuhan Latakia, pusat produksi senjata kimia di Barzeh, dan Bandara Qamishli di Suriah utara. Eskalasi ini menunjukkan strategi militer Israel yang terencana dan presisi.

Selama 48 jam, Israel mengklaim telah melancarkan lebih dari 480 serangan udara di Suriah. Target meliputi Damaskus, Daraa, Latakia, dan Hama. Dalam operasi tersebut, puluhan jet tempur dan helikopter dihancurkan, sementara armada angkatan laut Suriah dilaporkan lumpuh total. Sebanyak 15 kapal angkatan laut Suriah hancur di Minet el-Beida dan Latakia, dengan kapal rudal kelas Osa menjadi salah satu korbannya. Foto-foto dari lokasi kejadian menunjukkan kerusakan masif di berbagai situs strategis.

Seorang pejabat senior Israel menggambarkan operasi ini sebagai misi udara terbesar yang pernah dilakukan Angkatan Udara Israel. Sementara itu, sumber keamanan Israel menyebutkan bahwa sekitar 70-80% persenjataan strategis Suriah telah dihancurkan. Pernyataan ini menggarisbawahi skala destruktif dari invasi Israel di wilayah tersebut.

Tidak hanya infrastruktur militer, pelabuhan dan pusat produksi senjata kimia juga menjadi target utama. Di Pelabuhan Latakia, kerusakan parah terlihat dengan tenggelamnya beberapa kapal perang utama. Serangan terhadap Bandara Qamishli di Suriah utara juga mempertegas pendekatan agresif Israel dalam mengeliminasi ancaman.

Menurut mantan komandan pemberontak Suriah, kerusakan ini membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan. Pernyataan ini menyoroti dampak jangka panjang dari invasi Israel terhadap kemampuan militer Suriah. Dengan serangan udara yang masih terus berlangsung, situasi di wilayah tersebut semakin memanas.

Dalam kurun waktu kurang dari seminggu, lebih dari 300 serangan udara telah menghancurkan infrastruktur militer Suriah secara signifikan. Aksi Israel ini menuai berbagai respons internasional, meskipun banyak pihak belum memberikan komentar resmi terkait eskalasi tersebut. Israel menganggap operasi ini sebagai langkah preventif untuk melindungi keamanan nasionalnya.

Invasi Israel ke Suriah telah menciptakan ketegangan baru di kawasan Timur Tengah. Serangan yang dilakukan secara masif ini tidak hanya merusak infrastruktur militer Suriah, tetapi juga mengubah dinamika geopolitik di kawasan tersebut. Para analis memperkirakan bahwa efek domino dari serangan ini akan dirasakan dalam waktu lama.

Dengan jumlah serangan yang mencapai ratusan dalam waktu singkat, Israel menunjukkan kekuatan militernya yang luar biasa. Namun, dampak terhadap warga sipil dan stabilitas regional masih menjadi kekhawatiran utama. Meskipun Helm Putih tidak menemukan bukti keracunan, risiko serangan terhadap fasilitas kimia tetap menjadi perhatian serius.

Sumber The Guardian melaporkan, Pesawat-pesawat tempur Israel telah mengintensifkan serangan udara di Suriah, menyerang ratusan target militer dan menghancurkan seluruh skuadron pesawat tempur, sistem radar dan rudal, gudang-gudang rudal, dan sebagian besar angkatan laut Suriah yang kecil.

Melansir dari Al-Jazeera, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengatakan pada hari Selasa malam bahwa mereka telah melakukan lebih dari 480 serangan selama 48 jam sebelumnya, menghantam “sebagian besar gudang senjata strategis” di Suriah untuk mencegahnya jatuh ke tangan para ekstremis.

Serangan ini juga menggarisbawahi pentingnya langkah diplomatik untuk mencegah konflik lebih lanjut. Invasi Israel ke Suriah tidak hanya berdampak pada hubungan kedua negara, tetapi juga menciptakan ketegangan baru antara Israel dan sekutu-sekutu Suriah, termasuk Rusia dan Iran.

Meskipun operasi militer ini dirancang untuk mengeliminasi ancaman strategis, biaya kemanusiaan dan politik dari invasi Israel masih harus ditanggung oleh kawasan tersebut. Dengan serangan yang terus berlangsung, banyak pihak mendesak penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Turki menuduh Israel menunjukkan mentalitas penjajah dalam serangan ini, dan utusan PBB dengan tegas mengatakan bahwa serangan udara Israel harus segera dihentikan.

Invasi Israel menjadi pengingat betapa rapuhnya stabilitas di kawasan Timur Tengah. Situasi ini membutuhkan perhatian serius dari komunitas internasional untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Sementara itu, Israel tampaknya tetap berkomitmen melanjutkan operasinya hingga ancaman dianggap sepenuhnya terkendali.

Invasi Israel di Suriah: Langkah Strategis yang Menuai Kontroversi

Pada 9 Desember, Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengesahkan serangkaian tujuan militer yang dianggap strategis di Suriah selatan. Langkah ini menandai eskalasi yang signifikan dalam konflik di kawasan tersebut, dengan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mendapatkan empat mandat utama yang harus segera dilaksanakan. Invasi Israel ini memicu perhatian internasional karena dampaknya yang meluas pada stabilitas regional.

Dalam pengumuman resminya, Katz menekankan pentingnya mengamankan kendali penuh atas zona penyangga di Suriah. Zona ini memiliki nilai strategis tinggi bagi Israel, mengingat posisinya yang berdekatan dengan perbatasan. Langkah ini bertujuan mencegah ancaman potensial yang mungkin timbul dari kelompok-kelompok bersenjata di wilayah tersebut.

Selain itu, Israel berencana membangun zona keamanan yang lebih luas di luar zona penyangga. Fokus utamanya adalah menghilangkan persenjataan berat dan infrastruktur teroris yang dapat membahayakan keamanan Israel. Upaya ini juga melibatkan pendekatan diplomatik dengan komunitas Druze lokal dan kelompok regional lainnya. Invasi Israel di Suriah selatan jelas menunjukkan strategi yang mencakup aspek militer dan diplomasi.

Katz juga menginstruksikan IDF untuk segera menghentikan penyelundupan senjata Iran ke Lebanon melalui Suriah. Rute ini telah lama menjadi jalur penting bagi pengiriman senjata ke Hizbullah. Langkah tersebut tidak hanya berorientasi pada pengamanan Israel tetapi juga mengarah pada pengurangan pengaruh Iran di kawasan. Invasi Israel, dalam konteks ini, diharapkan memberikan dampak langsung terhadap jaringan penyelundupan tersebut.

Tujuan strategis lain yang disampaikan Katz adalah penghancuran sistem persenjataan berat di Suriah. Sasaran utamanya mencakup jaringan pertahanan udara, sistem rudal, dan instalasi pertahanan pantai. Langkah ini dinilai sebagai bagian dari upaya jangka panjang Israel untuk mencegah ancaman militer dari aktor negara maupun non-negara.

Invasi Israel ke Suriah selatan tidak lepas dari kritik internasional. Beberapa pihak menilai langkah ini dapat memicu ketegangan baru di Timur Tengah. Meski demikian, Israel mengklaim bahwa tindakannya adalah respons defensif terhadap ancaman keamanan yang terus meningkat.

Dalam implementasinya, IDF harus menghadapi tantangan kompleks di lapangan. Wilayah Suriah yang telah mengalami perang bertahun-tahun menyulitkan operasi militer apa pun. Namun, Israel tetap optimis bahwa strategi ini dapat memberikan hasil yang signifikan dalam menciptakan stabilitas di kawasan.

Sejumlah analis politik melihat langkah ini sebagai bagian dari strategi jangka panjang Israel untuk memperkuat posisinya di Timur Tengah. Invasi Israel, yang didukung oleh teknologi militer canggih dan jaringan intelijen kuat, menunjukkan pendekatan yang proaktif dalam mengatasi ancaman regional.

Namun, pertanyaan besar tetap muncul: Apakah langkah ini akan membawa perdamaian atau justru memicu konflik yang lebih besar? Komunitas internasional terus memantau perkembangan situasi ini dengan cermat. Invasi Israel tidak hanya berdampak pada Suriah tetapi juga pada dinamika geopolitik global.

Upaya diplomasi tetap menjadi harapan bagi banyak pihak. Meski militerisme sering menjadi pilihan terakhir, dialog tetap diperlukan untuk menciptakan solusi jangka panjang. Invasi Israel di Suriah selatan menunjukkan kompleksitas konflik modern yang melibatkan banyak aktor dengan kepentingan yang beragam.

Melalui langkah ini, Israel berharap dapat mengamankan perbatasannya sekaligus mengurangi pengaruh lawan-lawannya di kawasan. Namun, tanpa pendekatan yang menyeluruh, risiko eskalasi tetap tinggi. Invasi Israel menjadi pengingat bahwa perdamaian di Timur Tengah masih jauh dari kenyataan.

Dengan serangkaian langkah ini, Israel menegaskan posisinya sebagai salah satu aktor utama di Timur Tengah. Invasi Israel di Suriah selatan, meski kontroversial, menjadi babak baru dalam upaya negara tersebut menghadapi dinamika keamanan yang terus berubah. Waktu akan menentukan apakah strategi ini akan membawa hasil yang diinginkan atau justru memperparah situasi.

Baca Juga:

Tinta Emas

Tintaemas.net adalah situs sejarah berbasis AI pertama di Asia Tenggara yang menghadirkan ekosistem bacaan edukatif sekaligus menghibur dalam satu platform. Situs ini tidak hanya menyajikan artikel sejarah dunia dan Nusantara dengan narasi yang rapi, mudah dipahami, dan kaya konteks, tetapi juga merangkul tema yang lebih luas seperti budaya populer retro, media, kajian perfilman, komik, hingga humor cerdas bernuansa sarkas dan satir. Dengan identitas visual yang kuat dan gaya penulisan yang fleksibel, Tinta Emas menghubungkan fakta sejarah dengan relevansi masa kini

Mungkin Kamu Menyukai

Artikel Lainnya dari Penulis