Beau Brummell: Bapak Fashion Pria Modern

Beau Brummell: Bapak Fashion Pria Modern

<span class="te-credits-inline">Jessica Lautan<button type="button" class="te-credits-btn" aria-expanded="false" aria-controls="te-credits-panel-99800" data-te-credits-btn="1">+1</button><div id="te-credits-panel-99800" class="te-credits-panel" hidden role="dialog" aria-label="Daftar kredit artikel"><div class="te-credits-sec"><div class="te-credits-sec-title">Penulis utama</div><ul class="te-credits-list"><li class="te-credits-person"><a class="te-credits-person-link" href="https://tintaemas.net/user/Jessica%20Lautan/"><img class="te-credits-avatar" src="https://tintaemas.net/wp-content/uploads/nsl_avatars/182bee8a4419302802ebc0af52fe4325.png" alt="Jessica Lautan" loading="lazy" decoding="async" /><span class="te-credits-name">Jessica Lautan</span></a></li></ul></div><div class="te-credits-sec"><div class="te-credits-sec-title">Editor</div><ul class="te-credits-list"><li class="te-credits-person"><a class="te-credits-person-link" href="https://tintaemas.net/user/Amrullah/"><img class="te-credits-avatar" src="https://tintaemas.net/wp-content/uploads/nsl_avatars/0f9eb5b0e90d9897d9ca98a4c9861b81.jpg" alt="Amrullah" loading="lazy" decoding="async" /><span class="te-credits-name">Amrullah</span></a></li></ul></div></div></span>
Jessica Lautan 11 February 2026
9 menit --:-- 168x
Dukung Kami

Di tengah gemerlap pesta dan kemewahan aristokrasi London di akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, ada seorang pria yang tidak memiliki gelar bangsawan, tidak mewarisi tanah luas, dan tidak membawa nama keluarga besar, namun justru dialah yang mengubah cara dunia memandang keanggunan pria. Namanya Beau Brummell.

Sejak masa mudanya di Eton dan Oxford hingga kedekatannya dengan George IV, Brummell membangun pengaruhnya bukan melalui jabatan atau kekuasaan formal, melainkan lewat detail-detail yang kerap diabaikan orang lain. Ia memperhatikan potongan jas yang harus jatuh sempurna di badan, kemeja putih yang benar-benar bersih tanpa cela, simpul dasi yang diikat dengan penuh kesabaran, serta sikap tubuh yang tenang. Dengan semua itu, ia tidak perlu bersuara keras untuk menarik perhatian. Kehadirannya saja sudah cukup membuat orang lain merasa perlu merapikan penampilan mereka. Perlahan namun pasti, Brummell menjadi poros dalam kehidupan sosial London, hingga membuat banyak pria yang berpakaian bertanya dalam hati, “Apakah ini akan disetujui Brummell?

Selera pribadinya pun berubah menjadi standar umum. Di balik penampilannya yang selalu rapi dan sikapnya yang tenang, tersimpan kebanggaan besar dan lidah yang tajam. Candaan berubah menjadi sindiran, hubungannya dengan sang Pangeran merenggang, hutang menumpuk, dan sosoknya perlahan memudar.

Dari puncak kejayaan, ia perlahan tersingkir, hidup dalam pengasingan, dan menutup hidupnya jauh dari gemerlap yang dulu mengelilinginya. Kisah Beau Brummell terasa begitu ironi. Ia membentuk cara pria modern berpakaian dan membawa diri, tetapi pada akhirnya ia tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari keputusan-keputusan yang ia buat.

(Beau Brummell. Sumber: Wikimedia Commons)

Masa Awal Kehidupan dan Pendidikan

George Bryan Brummell, yang lebih dikenal sebagai Beau Brummell, lahir pada 7 Juni 1778 di Downing Street, London. Ia merupakan putra William Brummell, sekretaris pribadi Perdana Menteri Lord North. Meski tidak berasal dari keluarga bangsawan, posisi dan koneksi ayahnya memberi Brummell akses ke lingkungan sosial kelas atas. William Brummell sendiri memiliki ambisi besar agar putranya kelak hidup sebagai seorang gentleman, dan Beau Brummell dibesarkan dengan pemahaman tersebut.

Sejak muda, Beau Brummell dikenal sebagai pribadi yang cerdas, jenaka, dan memiliki daya tarik personal yang kuat. Ia menempuh pendidikan di Eton College, sekolah asrama laki-laki paling bergengsi di Inggris, sebelum melanjutkan studinya ke Universitas Oxford. Selama masa pendidikannya di Eton, Brummell mulai menunjukkan ketertarikan serius pada gaya berpakaian dan selera estetika. Ia bahkan ikut memodernisasi cravat, dasi putih khas siswa Eton, dengan memperkenalkan potongan yang lebih rapi serta penambahan gesper emas sebagai elemen dekoratif. Minat awal ini kelak menjadi fondasi utama perannya dalam dunia mode pria.[1]

Baca Juga: Tiga Pelopor Media Pers Perempuan Pra-Kemerdekaan, Ada yang Masih Bertahan sampai Sekarang! – Tinta Emas

Karier Militer dan Kedekatannya dengan Pangeran Wales

Pada tahun 1794, Brummell bergabung dengan Resimen 10th Light Dragoons yang berada di bawah komando Pangeran Wales, yang kelak naik takhta sebagai Raja George IV. Keduanya telah saling mengenal sejak Brummell berusia 16 tahun, dan hubungan mereka berkembang menjadi persahabatan dekat. Pangeran Wales beserta lingkaran sosialnya mengagumi selera estetika Brummell, kecerdasan bicaranya yang tajam, serta pesona kepribadiannya. Dalam resimen yang kemudian dikenal sebagai Tenth Royal Hussars ini, Brummell memulai karier militernya dengan pangkat cornet, pangkat terendah dalam jajaran perwira. Hanya dalam waktu dua tahun, pada 1796, ia dipromosikan menjadi kapten, sebuah kenaikan pangkat yang terbilang cepat dan memicu kecemburuan di kalangan perwira senior. 

Namun, pada tahun 1797, ketika resimennya dipindahkan dari London ke Manchester, Brummell memilih mengundurkan diri dari dinas militer. Keputusan ini didorong oleh pandangannya terhadap kota Manchester yang ia anggap kurang memiliki budaya, sopan santun, dan daya tarik sosial.[2]

Munculnya Brummell sebagai Ikon Fashion dan Dandy Terkemuka

Setelah meninggalkan militer, pengaruh Brummell justru semakin besar di dunia sosial London. Bersama Pangeran Wales, ia dikenal sebagai bagian dari duo glamor yang kerap menjadi pusat perhatian di pesta dan pertemuan elite. Hubungan ini bukan sekadar fenomena sosial, melainkan juga sarana penting bagi Brummell untuk membentuk standar baru dalam berpakaian pria. Berkat patronase sang Pangeran, Brummell memperoleh akses penuh ke kalangan aristokrat dan secara efektif menjadi penentu selera, gaya hidup, dan keanggunan pria kelas atas London pada dekade pertama abad ke-19.[3]

(George IV, yang pada masa itu masih berstatus sebagai Pangeran Wales, merupakan sahabat sekaligus patron utama Beau Brummell. Sumber: Pinterest.)

Rumah Brummell di Chesterfield Street kemudian berkembang menjadi pusat pertemuan aristokrat dan kelompok yang dikenal sebagai Dandiacal Body, para pengikut dan pemuja dandisme. Ruang ganti depan Brummell bahkan dipandang sebagai “ruang suci” tempat lahirnya standar baru berpakaian pria. Di ruang inilah para tamu dapat menyaksikan langsung rutinitas Brummell saat bersiap dan berpakaian yang bisa berlangsung berjam-jam. Bahkan, Pangeran Wales sendiri disebut hampir setiap pagi mengunjungi kediaman tersebut untuk berdiskusi mengenai busana dan penampilan, sebuah kebiasaan yang semakin menegaskan posisi Brummell sebagai otoritas tertinggi dalam dunia mode pria pada masanya.[4]

Sejumlah pengamat juga mencatat adanya ambiguitas seksual dalam diri Brummell. Ia dikenal tidak segan memperlihatkan tubuhnya kepada para tamu, termasuk ke Pangeran Wales. Brummell bahkan diduga mengatur posisi cermin untuk menonjolkan keseluruhan tubuhnya. Namun, Brummell tetap menjaga jarak yang tegas, memberi sinyal bahwa ketertarikan visual tidak boleh berkembang menjadi kedekatan fisik.[5]

(Ilustrasi Beau Brummell dan para gentlemen lainnya termasuk George IV (paling kanan). Sumber: MeisterDrucke)

Lahirnya Gaya Pria Modern

Sebelum pengaruh Brummell muncul, penampilan pria aristokrat cenderung sangat mencolok dan berlebihan. Busana mereka biasanya terdiri atas jas dengan bordiran emas, kerah renda, celana ketat sebatas lutut (breeches), wig yang dipenuhi bedak, serta sepatu berhak tinggi. Brummell kemudian memperkenalkan prinsip berpakaian yang menekankan “kemewahan maksimal yang digunakan untuk menghasilkan kesan sesederhana mungkin,” atau dalam istilah masa kini sering diringkas sebagai less is more. Bagi Brummell, keanggunan tidak terletak pada warna mencolok atau hiasan berlebihan, melainkan pada potongan busana dan kualitas bahan.[6]

(Lukisan karya Nathaniel Dance-Holland ini menampilkan empat pria bangsawan Inggris yang tengah menjalani Grand Tour di Eropa pada dekade 1760-an. Busana yang mereka kenakan memperlihatkan gaya berpakaian pria aristokrat pada masa tersebut yang cenderung sangat mencolok, dengan penggunaan warna cerah, detail dekoratif berlebihan, dan elemen kemewahan yang kuat. Sumber: Wikimedia Commons.)

Ia bahkan mengingatkan bahwa seseorang yang berpakaian baik seharusnya tidak menarik perhatian berlebihan di jalan. Gaya ideal versi Brummell diwujudkan melalui jas wol biru tua dengan potongan sempurna, celana panjang warna terang, kemeja linen, cravat putih bersih, serta sepatu bot berwarna gelap. Kombinasi ini melahirkan tampilan baru yang sederhana, rapi, dan elegan. Standar tinggi yang ditetapkan Brummell mendorong para penjahit di Savile Row, London, untuk mengembangkan keahlian mereka hingga kawasan tersebut dikenal sebagai pusat busana pria. Bahkan, sejumlah penjahit memberikan contoh kain dan pakaian kepada Brummell, yang secara tidak langsung berperan sebagai etalase hidup bagi hasil karya mereka.[3]

(Beau Brummell di tahun 1805. Sumber: Wikimedia Commons)

Sebagai pribadi, Brummell dikenal sangat perfeksionis. Ia dapat menghabiskan waktu hingga lima jam hanya untuk mempersiapkan diri, bukan sebagai bentuk pamer, melainkan sebagai wujud komitmen terhadap kerapian, kebersihan, dan ketelitian terhadap penampilan. Bagi Brummell, keanggunan sejati ada pada potongan pakaian yang pas, cara berpakaian yang rapi dan teliti, serta penampilan yang bersih dan tertata tanpa terlihat berlebihan.[7]

Selain itu, Brummell juga memperkenalkan etiket kebersihan yang jauh lebih modern. Ia menggunakan tempat ludah dari perak (silver spittoon), menggantikan kebiasaan meludah di lantai yang masih lazim pada masa itu. Praktik perawatan dirinya yang terkesan eksentrik ini kemudian menjadi sangat terkenal dan ikut membentuk standar baru tentang kebersihan, kerapian, dan penampilan pria masa itu.[3]

Pada intinya, aturan dan perubahan besar yang dibawa Brummell dalam gaya berpakaian pria dapat dirangkum sebagai berikut:

  • Jas berwarna gelap, bukan warna-warna mencolok, dengan potongan ramping dan pas di badan.
  • Kemeja putih yang bersih, rapi, dan kaku.
  • Cravat tanpa renda, diikat dengan sangat rapi, bahkan membutuhkan waktu lama agar terlihat sederhana dan “effortless”.
  • Celana panjang lurus yang menggantikan celana ketat selutut (knee-breeches).
  • Sepatu kulit hitam yang dipoles hingga sangat mengkilap, bahkan Brummell sendiri menggunakan sampanye untuk membuatnya lebih mengkilap.
  • Tidak lagi memakai wig; rambut dibiarkan alami dan wajah harus bersih. Perawatan diri (grooming) menjadi sebuah keharusan, bukan pilihan.

Konflik dengan Pangeran dan Kemerosotan Status Sosial

Namun, seiring waktu, kepercayaan diri Brummell berkembang menjadi sikap arogan. Dikelilingi lingkungan elite, ia terjerumus dalam gaya hidup mewah dan kebiasaan berjudi, meskipun kondisi keuangannya rapuh. Dalam hubungan persahabatannya dengan Pangeran Wales, ia juga semakin sering melampaui batas etiket, termasuk melontarkan komentar-komentar tajam yang meremehkan sang Pangeran.[5]

Keretakan hubungan antara Brummell dan sang Pangeran mencapai puncaknya pada tahun 1813, meskipun perpisahan ini merupakan hasil dari ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa tahun. Perbedaan karakter keduanya semakin terasa, terutama karena Brummell kerap bersikap terlalu bebas. Ia bahkan enggan menunjukkan sikap hormat dan menjaga jarak sebagaimana yang diharapkan terhadap sang Pangeran maupun para tamu terhormat. Salah satu peristiwa yang memperburuk hubungan mereka terjadi dalam sebuah jamuan di Marine Pavilion, Brighton. Saat itu, Brummell secara terang-terangan menghina Uskup Winchester dengan menyuruh agar sisa tembakaunya yang sempat diminta sedikit oleh sang Uskup langsung dibuang. Ini tentunya merupakan sebuah tindakan yang sangat menyinggung sang Pangeran, mengingat besarnya rasa hormatnya terhadap tokoh agama.

(Ilustrasi Argyle Rooms oleh George Cruikshank. Sumber: Wikimedia Commons)

Tak lama berselang, pada sebuah pesta di Argyle Rooms pada tahun 1813, sang Pangeran secara terbuka mengabaikan Brummell dan memilih menyapa Lord Alvanley. Brummell, yang tersulut amarah dan merasa harga dirinya tercoreng, membalas dengan sindiran tajam, “Alvanley, siapa teman gemukmu itu?” Dengan menghina Pangeran Wales di ruang publik, Brummell justru kehilangan patron utama yang selama ini menopang status dan pengaruhnya. Sejak saat itu, ia mulai tersingkir dari pusat kehidupan sosial elite London.[8]

​Pengasingan dan Akhir Hayat

Tanpa dukungan George dan tanpa perlindungan sosial yang selama ini menopangnya, Brummell mengalami kemunduran yang sangat drastis. Pada tahun 1820, ia terpaksa melarikan diri ke Prancis untuk menghindari pemenjaraan akibat utang yang menumpuk. Kehidupannya di pengasingan jauh dari gemerlap yang pernah ia nikmati. Ia hidup bergantung pada belas kasihan teman-temannya, sementara kondisi kesehatannya terus menurun, diduga akibat penyakit sifilis atau gangguan mental yang berkepanjangan. Akhir hidup Brummell berlangsung dalam kesunyian dan kemiskinan. Ia meninggal dunia dalam keadaan pikun di sebuah rumah sakit jiwa di Caen pada tahun 1840.[9]

(Brummell pada masa tuanya di Calais. Sumber: Media Storehouse)

Warisan dalam Mode Modern

Dari sosok yang pernah menjadi ikon gaya paling berpengaruh di London, Brummell memang berakhir sebagai figur yang nyaris terlupakan. Namun, pengaruh dan warisannya dalam dunia mode serta budaya modern justru bertahan jauh melampaui zamannya. Warisan Beau Brummell sesungguhnya masih hidup hingga kini, bahkan mungkin tersimpan di lemari pakaian kita tanpa disadari.

Mengapa pria modern masih mengenakan jas? Mengapa kemeja putih, celana panjang, dan sepatu kulit menjadi “seragam” resmi pria di berbagai situasi formal? Jawabannya dapat ditelusuri kembali pada prinsip-prinsip berpakaian yang diperkenalkan oleh Brummell.

Gaya formal pria masa kini sangat dipengaruhi oleh gagasan Brummell tentang kesederhanaan, potongan yang presisi, dan kualitas bahan. Tradisi tailoring khas Savile Row, penggunaan warna jas netral seperti abu-abu, biru tua, dan hitam, hingga penekanan pada penampilan yang rapi dan bersih, semuanya berakar pada pemikirannya. Bagi Brummell, keanggunan sejati tidak pernah bersifat mencolok. Ia percaya bahwa pria dengan kekuatan dan wibawa sejati tidak perlu tampil berlebihan, melainkan cukup hadir dengan ketenangan, kerapian, dan keanggunan yang kuat dalam kesederhanaan.

Daftar Pustaka

Buku
  1. [1]
    Dr. Doran (John) (1857). Miscellaneous Works: Volume I: Habits and Men. Redfield.
  2. [5] 1,2
    Saul David (1998). The Prince of Pleasure. Atlantic Monthly Press. ISBN: 9780871137395. https://openlibrary.org/books/OL24749042M/The_Prince_of_Pleasure
  3. [8]
    Christopher Hibbert (2007). George IV: The Rebel Who Would Be King. Palgrave Macmillan. ISBN: 9781403983794. https://openlibrary.org/books/OL8401025M/George_IV
Artikel Website
  1. [2]
    Dr. Christopher Lee (2018). Beau Brummell: The First Menswear Influencer?. Gentleman's Gazette. Diakses pada 10 February 2026. https://www.gentlemansgazette.com/beau-brummell-the-original
  2. [3] 1,2,3
    Peyró, I. & Tassie, J. (2019). Beau Brummell was a 19th-century fashion icon for men. National Geographic. Diakses pada 10 February 2026. https://www.nationalgeographic.com/history/history-magazine/article/beau-brummell-nineteenth-century-fashion
  3. [4]
    (2019). Beau Brummell | Leader of Fashion | Blue Plaques. English Heritage. Diakses pada 10 February 2026. https://www.english-heritage.org.uk/visit/blue-plaques/beau-brummell
  4. [6]
    (1998). Recreating a Masterpiece part 006: The Make. The Transatlantic Journal. Diakses pada 10 February 2026. https://thetransatlanticjournal.com/blogs/the-periodical/recreating-a-masterpiece-part-006-the-make
  5. [7]
    (2011). Beau Brummell and the Birth of Regency Fashion - Jane Austen articles and blog. Jane Austen Center. Diakses pada 10 February 2026. https://janeausten.co.uk/blogs/mens-fashion/beau-brummell-and-the-birth-of-regency-fashion
  6. [9]
    Rachel Knowles (2007). The Rebel Who Would Be King. Regency History. Diakses pada 10 February 2026. https://www.regencyhistory.net/blog/beau-brummell-regency-dandy

Mungkin Kamu Menyukai