Pada abad ketiga belas hingga kelima belas, Asia Tenggara berada dalam dinamika politik dan ekonomi yang sangat aktif. Selat Malaka berfungsi sebagai jalur utama perdagangan internasional yang menghubungkan dunia Islam, India, Tiongkok, dan kepulauan Nusantara. Di pesisir utara Sumatra berdiri Samudera Pasai sebagai salah satu kerajaan Islam paling awal di kawasan tersebut. Pada saat yang hampir bersamaan, di daratan Asia Tenggara muncul kekuatan baru yang berkembang pesat, yaitu Siam yang kemudian dikenal sebagai Ayutthaya. Pertemuan dua pusat kekuasaan ini membuka kemungkinan hubungan politik, ekonomi, dan militer yang kompleks, yang hingga kini masih menjadi bahan perdebatan historiografis.
Tulisan ini berupaya memperdalam pembahasan mengenai hubungan antara Siam (Ayutthaya) dan Pasai dengan bertumpu pada sumber utama berupa Hikayat Raja Raja Pasai (HRRP) serta pembacaan kritis terhadapnya sebagaimana dianalisis oleh Phillip L. Thomas dalam artikelnya tentang keterlibatan Thai di Pasai.[1]

Konteks Geopolitik dan Sistem Mandala
Hubungan antara Ayutthaya dan Pasai tidak dapat dipahami tanpa menempatkannya dalam sistem politik Asia Tenggara abad pertengahan yang bercorak mandala. Dalam sistem ini, kekuasaan tidak diukur berdasarkan batas teritorial tetap sebagaimana negara modern, melainkan melalui jaringan pengaruh yang bersifat bertingkat dan cair. Sebuah pusat kekuasaan yang kuat akan berupaya menarik pusat lain ke dalam orbitnya melalui hubungan upeti, aliansi, tekanan militer, atau legitimasi simbolik.
Ayutthaya yang berdiri pada pertengahan abad keempat belas berkembang menjadi kekuatan dominan di wilayah daratan Asia Tenggara. Ia mewarisi tradisi politik dari Sukhothai dan memproyeksikan kekuatannya ke Semenanjung Malaya. Wilayah seperti Ligor (Nakhon Si Thammarat), Patani, dan Kelantan berada dalam orbit pengaruh Siam. Pengaruhnya meluas ke berbagai wilayah di Semenanjung Malaya yang memiliki nilai strategis dalam jalur perdagangan laut.
Pada saat yang sama, Pasai telah muncul sebagai simpul penting dalam jaringan perdagangan Samudera Hindia dan Selat Malaka. Pasai di pesisir Sumatra memainkan peran sentral dalam perdagangan internasional, yang terhubung dengan Gujarat, Persia, Tiongkok, dan dunia Arab. Dalam konteks ini, Pasai bukan kerajaan kecil yang terisolasi, melainkan simpul ekonomi, religius dan pusat keilmuan Islam yang strategis. Letaknya yang strategis menjadikannya sasaran perhatian kekuatan besar di sekitarnya.
Dalam sistem mandala, pusat kekuasaan besar akan berusaha menarik pusat-pusat lain ke dalam lingkaran pengaruhnya. Dengan demikian, secara geopolitik, sangat mungkin bahwa Ayutthaya melihat Pasai sebagai wilayah yang perlu diawasi, ditekan, atau bahkan ditundukkan.
Pada kerangka seperti ini, kemungkinan adanya interaksi antara Ayutthaya dan Pasai bukanlah sesuatu yang mustahil. Keduanya berada dalam lingkaran ekonomi dan politik yang saling terhubung. Ketika sebuah kerajaan berupaya memperluas pengaruhnya, wilayah yang memiliki posisi strategis seperti Pasai tentu menjadi perhatian serius.[1]
Narasi Invasi Siam dalam Hikayat Raja Raja Pasai
Kisah paling terkenal mengenai hubungan Ayutthaya dan Pasai terdapat dalam Hikayat Raja Raja Pasai. Dalam teks tersebut diceritakan bahwa pada masa Sultan Maliku’l Mahmud (generasi kelina Pasai) datanglah armada Siam dalam jumlah besar ke perairan Pasai. Disebutkan bahwa sekitar seratusan kapal berlayar dengan tujuan menuntut upeti atau menghancurkan kerajaan.[1] Narasi ini menggambarkan situasi genting di mana para panglima Pasai berusaha mempertahankan negeri namun mengalami kesulitan menghadapi kekuatan musuh.
Ketegangan keduanya meningkat, panglima-panglima Pasai turun ke medan tempur seperti Barang Laksmana, Tun Rawan Permatang, dan Tun Aria Jong. Pertempuran berlangsung dalam beberapa tahap.Mereka bertahan, tetapi keadaan hampir runtuh, para jenderal Pasai awalnya hanya mampu menahan serangan tanpa berhasil memukul mundur pasukan Siam. Pada akhirnya sang sultan sendiri turun ke medan perang dan memimpin pertempuran. Kepemimpinannya berhasil membalikkan keadaan, arah pertempuran pun berubah. Komandan Siam yang bernama Talak Sejang dikisahkan tewas tertembus anak panah di dada sehingga pasukan Siam tercerai-berai dan akhirnya mengalami kekalahan telak.[1]
Cerita tersebut menghadirkan gambaran heroik tentang keberanian dan legitimasi kekuasaan raja Pasai. Namun pembacaan yang lebih cermat menunjukkan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar laporan kronologis. Thomas memperlihatkan bahwa perang melawan Siam muncul dalam struktur genealogis yang sangat teratur. Perang besar dalam hikayat ini selalu terjadi pada generasi ganjil dalam silsilah raja raja Pasai.[1] Dengan kata lain, keberadaan perang melawan Siam mengikuti pola naratif yang telah dibangun dalam keseluruhan struktur hikayat.
Struktur Genealogis dan Pola Perang
Dalam silsilah yang dianalisis Thomas, setiap generasi memiliki fungsi naratif tertentu. Generasi ganjil sering diisi dengan konflik besar dan invasi dari luar, sedangkan generasi genap lebih banyak menampilkan stabilitas atau transisi kekuasaan. Perang antara Raja Ahmad dan Raja Muhammad pada generasi pertama menjadi pola awal yang kemudian diikuti oleh invasi terhadap Merah Silu pada generasi ketiga dan serangan Siam pada generasi kelima.[1]
Pola tersebut menimbulkan persoalan serius dalam menilai historisitas peristiwa. Jika invasi Siam muncul pada posisi yang dapat diprediksi berdasarkan struktur sastra, maka ada kemungkinan bahwa penempatan peristiwa itu lebih ditentukan oleh kebutuhan naratif daripada oleh fakta sejarah. Thomas menyimpulkan bahwa walaupun invasi tersebut mungkin saja pernah terjadi, hikayat tidak dapat dijadikan bukti kronologis yang dapat dipastikan tanpa dukungan sumber eksternal.[1]
Perbandingan dengan Sejarah Melayu dan Tradisi Lain
Gambaran mengenai keterlibatan Siam dalam Pasai tidak seragam dalam tradisi Melayu. Dalam Sejarah Melayu terdapat kisah mengenai intervensi Siam di wilayah Semudera. Namun kisah tersebut berbeda dari versi Hikayat Raja Raja Pasai. Dalam Sejarah Melayu tidak ditemukan deskripsi pertempuran besar yang berakhir dengan kemenangan Pasai. Sebaliknya terdapat cerita tentang raja yang dibawa ke Siam sebelum akhirnya dipulangkan.[1] Perbedaan ini menunjukkan bahwa tradisi Melayu sendiri tidak memiliki satu narasi tunggal mengenai hubungan Siam dan Pasai.
Sementara itu La Légende de Samudra bahkan tidak mencatat invasi Siam sama sekali.[1] Ketidakhadiran peristiwa ini dalam tradisi lain memperkuat keraguan terhadap kepastian historis kisah perang dalam hikayat.
Bukti Arkeologis dan Keterbatasannya
Bukti arkeologis dari Pasai berupa batu nisan dan koin memperlihatkan eksistensi nyata para sultan seperti Malik al Salih dan Malik al Zahir.[1] Namun bukti tersebut tidak memberikan informasi langsung mengenai konflik dengan Siam. Catatan asing seperti laporan Marco Polo juga tidak menyebutkan secara eksplisit perang besar antara Siam dan Pasai dalam bentuk yang serupa dengan narasi hikayat.
Ketiadaan dukungan epigrafis atau kronik Siam yang jelas membuat invasi tersebut sulit ditempatkan dalam kronologi yang pasti. Thomas menegaskan bahwa dari sumber sastra yang ada tidak mungkin memastikan historisitas maupun penanggalan invasi Siam terhadap Pasai.[1]
Kemungkinan Hubungan Nyata di Balik Narasi
Walaupun kisah perang dalam hikayat tidak dapat diverifikasi sepenuhnya, hubungan antara Ayutthaya dan Pasai tetap sangat mungkin terjadi dalam bentuk lain. Dalam sistem politik Asia Tenggara, hubungan antarkerajaan sering kali mencakup pertukaran utusan, tekanan diplomatik, dan tuntutan upeti simbolik. Ekspedisi militer tidak selalu bertujuan penaklukan permanen, melainkan sebagai demonstrasi kekuasaan untuk memperkuat posisi dalam jaringan mandala.
Dalam konteks ini, sangat mungkin bahwa Siam pernah mengirim ekspedisi ke wilayah yang berhubungan dengan Pasai atau menekan pusat kekuasaan maritim tersebut. Namun kisah yang berkembang dalam Hikayat Raja Raja Pasai barangkali telah memperbesar atau menstrukturkan ulang peristiwa tersebut sesuai dengan kebutuhan legitimasi dinasti.

Tradisi Sejarah Melayu dan Versi Alternatif tentang Siam
Selain Hikayat Raja Raja Pasai, sumber penting yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan hubungan Siam dan Pasai adalah Sejarah Melayu. Dalam teks ini, keterlibatan Siam memang disebutkan, tetapi narasinya sangat berbeda dari gambaran heroik dalam HRRP.
Dalam Sejarah Melayu, kisah intervensi Siam tidak disajikan sebagai perang besar yang dimenangkan Pasai. Sebaliknya, terdapat cerita tentang penyerangan terhadap Semudera yang berujung pada penawanan raja. Dalam beberapa versi manuskrip, raja tersebut bahkan dibawa ke Siam dan dipaksa menjalani kehidupan yang merendahkan sebelum akhirnya dipulangkan melalui perantaraan seorang tokoh penting Pasai.[2]
Versi ini memberikan kesan bahwa Siam berada pada posisi lebih dominan dibanding Pasai. Tidak ada duel dramatis antara panglima, tidak ada kisah komandan Siam yang tewas tertembus panah sebagaimana dalam HRRP. Narasi ini justru lebih mencerminkan relasi kekuasaan asimetris dalam sistem politik Asia Tenggara, di mana kerajaan besar dapat menundukkan pusat kekuasaan lain melalui ekspedisi militer singkat atau tekanan simbolik.
Perbedaan ini sangat signifikan. Jika HRRP menggambarkan kemenangan Pasai atas Siam, maka Sejarah Melayu menghadirkan kemungkinan bahwa Pasai pernah berada dalam posisi lemah di hadapan Siam. Kontradiksi ini menunjukkan bahwa tradisi historiografi Melayu sendiri tidak memiliki satu versi tunggal mengenai hubungan tersebut.
La Légende de Samudra dan Ketiadaan Episode Siam
Tradisi lain yang sering dibandingkan dengan HRRP adalah teks yang dikenal sebagai La Légende de Samudra, yang dikumpulkan dan diterbitkan oleh H. K. J. Cowan. Dalam teks ini, struktur silsilah dan kisah raja raja Pasai mengalami sejumlah variasi dibanding HRRP.
Menariknya, invasi Siam sebagaimana digambarkan panjang lebar dalam HRRP tidak memperoleh tempat penting dalam tradisi ini. Ketiadaan atau minimalisasi episode tersebut menunjukkan bahwa ingatan kolektif mengenai konflik dengan Siam tidak selalu dianggap sebagai momen sentral dalam sejarah Pasai.[3]
Hal ini penting secara metodologis. Jika suatu peristiwa benar benar menentukan dalam sejarah sebuah kerajaan, biasanya ia meninggalkan jejak konsisten dalam berbagai tradisi teks. Ketika sebuah tradisi mengabaikan atau mereduksi peristiwa itu, maka muncul kemungkinan bahwa peristiwa tersebut tidak memiliki bobot historis sebesar yang digambarkan dalam teks lain.
Kronik dan Perspektif Siam
Pertanyaan yang sering muncul adalah apakah kronik Siam sendiri menyebutkan ekspedisi terhadap Pasai. Hingga kini tidak terdapat bukti kuat dari kronik Ayutthaya yang secara eksplisit mencatat perang besar melawan Pasai dalam bentuk yang sesuai dengan narasi HRRP.
Beberapa kajian sejarah Thailand menyebutkan ekspansi Siam ke wilayah Semenanjung Malaya dan jaringan pelabuhan pesisir, tetapi rujukan spesifik mengenai Pasai sangat terbatas dan tidak sejelas cerita dalam hikayat Melayu.[a] Hal ini membuat hubungan tersebut tetap berada dalam wilayah kemungkinan historis yang belum terkonfirmasi secara langsung dari sumber daratan.
Ketiadaan catatan kronik yang tegas bukan berarti konflik tidak pernah terjadi. Namun secara historiografis, ketiadaan itu memperlemah klaim bahwa invasi tersebut merupakan peristiwa besar yang menentukan.
Kajian Filologis dan Kritik Historiografi Modern
Sejumlah sarjana yang meneliti historiografi Melayu klasik menekankan bahwa teks seperti HRRP dan Sejarah Melayu tidak dapat diperlakukan sebagai kronik sejarah dalam pengertian modern. A. H. Hill dalam edisinya terhadap HRRP menyoroti banyaknya unsur folklor dan interpolasi yang mempersulit pembacaan literal terhadap teks tersebut.[4] R. Roolvink dalam studinya mengenai variasi manuskrip Sejarah Melayu juga menunjukkan betapa cair dan berubah ubahnya tradisi teks Melayu klasik.[5]
Kajian kajian ini mendukung kesimpulan bahwa episode Siam dalam HRRP harus dibaca dengan kehati hatian tinggi. Peristiwa tersebut mungkin mencerminkan memori tentang kontak atau ketegangan dengan kekuatan daratan, tetapi bentuk narasinya telah disesuaikan dengan struktur simbolik dan kebutuhan legitimasi dinasti.
Penutup
Hubungan antara Ayutthaya dan Samudera Pasai berada di persimpangan antara kemungkinan sejarah dan konstruksi sastra. Secara geopolitik hubungan keduanya sangat masuk akal dalam konteks ekspansi dan persaingan pengaruh di Selat Malaka. Namun kisah invasi Siam sebagaimana digambarkan dalam Hikayat Raja Raja Pasai mengikuti pola genealogis yang terlalu teratur sehingga sulit diperlakukan sebagai laporan kronologis yang pasti.
Tanpa dukungan sumber eksternal yang lebih kuat, invasi Siam terhadap Pasai tetap berada dalam wilayah kemungkinan historis. Kisah tersebut menunjukkan bagaimana tradisi Melayu membangun narasi tentang ancaman eksternal dan legitimasi raja melalui struktur simbolik yang konsisten. Hubungan Ayutthaya dan Pasai dengan demikian tidak hanya menjadi persoalan sejarah politik, tetapi juga contoh bagaimana historiografi klasik Nusantara memadukan realitas dan imajinasi dalam satu jalinan cerita yang kompleks.
Catatan Kaki
- [a] Tidak merujuk pada satu karya spesifik, melainkan narasi umum sebagai kategori kajian dalam historiografi Thailand modern.
Daftar Pustaka
-
[2]
Brown, C. C. (. (1970). Sejarah Melayu or Malay Annals (Raffles MS 18). Oxford University Press. -
[4]
Hill, A. H. (. &. T. (1960). Hikayat Raja Raja Pasai Journal of the Malayan Branch of the Royal Asiatic Society 32 2 Array -
[5]
Roolvink, R. (1967). The variant versions of the Malay Annals. Bijdragen tot de Taal Land en Volkenkunde.
-
[3]
Cowan, H. K. J. (1973). La légende de Samudra. , 5, 245-267. https://www.persee.fr/doc/arch_0044-8613_1973_num_5_1_1062


























